Tampilkan postingan dengan label opini kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juni 20, 2008

9 Mitos Geopolitik

Geopolitik biasanya diartikan sebagai hubungan dan kaitan antara kekuatan politik dan posisi geografis. Doktrin geopolitik mulai menarik perhatian sejak dipopulerkannya karya
Sir Halford Mackinder di Inggris tentang Teori Heartland di tahun 1914, yang merujuk kepada masa Imperium Inggris dengan menunjukkan pentingnya kekuatan angkatan laut dalam konflik dunia.

Ketika politik melihat pada penggunaan kekuatan, geopolitik meliat kekuatan dalam hubungannya dengan tempat dan sumber daya. Dunia Barat yang telah mendominasi geopolitik sejak awal abad ke20, melahirkan berbagai mitos yang beberapa diantaranya tersembunyi problema kronis. Sebagai muslim yang tercerahkan, kita harus memahami situasi politik global, tidak hanya sebagai alat untuk membela umat dan agama, tetapi juga untuk membongkar kelemahan dunia Kapitalis Barat.

Berikut mitos-mitos tersebut:

1. Populasi Dunia telah terlalu banyak (overpopulated)

Pertumbuhan populasi yang meningkat sering dituding sebagai sebab langkanya pangan. Kesimpulan ini diyakini sebagai sebab adanya kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan konflik sosial kemasyaratan. Pembangunan ekonomi di dunia ketiga tidak akan berhasil apabila angka pertumbuhan populasi tidak dikontrol. Itu sebabnya lembaga internasional dan pemerintahan mengembangkan dan menerapkan strategi untuk mengontrol angka pertumbuhan di dunia ketiga. Meledaknya angka populasi ini dinamai ‘over’ yang berimplikasi pada penggunaan sumber daya yang habis-habisan untuk menunjang besarnya pertumbuhan populasi tersebut dan mengakibatkan ketidakstabilan global.
Ketika asumsi-asumsi tersebut dicermati, maka tampaklah bahwa populasi bukanlah kambing hitam yang selama ini dipercaya, namun justru agenda politik yang menyebabkan bencana dibanyak belahan dunia. Agenda ini bermaksud untuk mengalihkan masyarakat awam dari faktor penyebab yang sesungguhnya yaitu gaya hidup, konsumerisme, pemiskinan, dan penindasan dunia ketiga oleh dunia barat.
Negeri-negeri maju seperti Jepang, Rusia, Jerman, Swiss dan Eropa Timur saat ini mengalami dilemma seperti menurunnya tingkat pertumbuhan penduduk karena rendahnya angka kelahiran. Negara2 di Barat lainnya juga pasti akan mengalami penurunan populasi kalau saja tidak adanya imigrasi dari penduduk negeri lainnya. Menurunnya jumlah penduduk di Barat dibandingkan dengan negeri-negeri lain seperti negeri dunia Islam, menyebabkan penduduk di negeri muslim memiliki hak suara yang lebih tinggi dalam percaturan kelembagaan internasional karena populasinya yang meninggi. Dan isu tentang jumlah populasi ini sering digunakan untuk menjatuhkan negeri yang berpopulasi besar sehingga bisa mengurangi ancaman pengaruh dari negeri tersebut di masa mendatang. Contohnya, Turki. Kalau saja Turki bisa masuk ke dalam keanggotaan Uni Eropa, jumlah penduduk Turki sebesar 70 juta jiwa adalah jumlah kedua terbesar di parlemen Eropa. Lebih jauh lagi, demografi Turki akan menyalip Jerman dalam jumlah perwakilan di parlemen Eropa pada tahun 2020. Keanggotaan Turki juga akan mempengaruhi arah masa depan Uni Eropa seperti rencana perluasan, sebagai dasar penolakan Valery Giscard d’Estaing dari Perancis terhadap masuknya Turki ke Uni Eropa [1]. D’estaing mengatakan bahwa masuknya Turki akan berlanjut pada keinginan Maroko untuk ikut bergabung pula.
Maka, dunia ini sebetulnya tidak atau belum mengalami ledakan populasi (overpopulated) . Hanya Dunia Barat saja yang rakus.

2. Intervensi barat terhadap konflik Balkan di tahun 1990an adalah untuk menolong umat Islam
Serangan NATO pada Yugoslavia di tahun 1993 sering ditampilkan dunia barat sebagai akibat keraskepalanya rezim Yugoslavia untuk menerima rencana perdamaian – terutama pada penolakan Yugoslavia terhadap masuknya pasukan pemelihara perdamaian di Kosovo. Intervensi barat yang berujung pada pemboman beruntun terhadap Yugoslavia oleh NATO selalu dijadikan bukti oleh NATO bahwa ‘Perang melawan Teror’ saat ini bukanlah perang melawan Islam. Sebab, dunia Barat menyatakan bahwa ia akan menyerang siapapun demi misi kemanusiaan, bahkan kalau perlu ‘menyelamatkan’ muslim Kosova dari kebengisan Yugoslavia di tahun 1993. Kenyataan geopolitik sebenarnya tidak seperti itu. Ketidakstabilan Balkan di tahun 1990an sebenarnya dipicu oleh keinginan kuat oleh Amerika untuk mengurangi pengaruh Rusia, menaikkan ketergantungan eropa pada AMerika, dan memberikan legitimasi baru pada NATO, yang telah kehilangan fungsi sejak berakhirnya Perang Dingin (runtuhnya Uni Sovyet dan Pakta Warsawa).
Negeri Barat terutama AS dan Inggris berusaha keras untuk memecah Yugoslavia, yang terungkap oleh kata-kata dubes AS untuk Yugoslavia Warren Zimmerman pada bulan Januari 1992 sebelum pecahnya konflik sebagai ‘usaha kita untuk memecah Yugoslavia menjadi negeri-negeri kecil.”[2] Pada tanggal 18 Maret 1992, Uni Eropa mensponsori usaha perdamaian di Lisbon yang melibatkan Muslim Bosnia, Kroasia, dan Serbia untuk memecah Yugoslavia menjadi kantong-kantong negeri independen berbasis etnis atau agama, yang bersatu dalam bentuk semacam federasi. Usaha perdamaian ini disabotase oleh AS dengan mendesak Presiden Alija Izetbegovic untuk mendeklarasikan kemerdekaan dengan dasar ‘referendum 1 Maret.’ Jose Cutileiro, sekjen Uni Eropa mengkonfirmasi bahwa ‘Presiden Alija Izethbegovic dan pembantunya memang telah disokong untuk menolak usaha perdamaian dan berjuang untuk untuk menyatukan Bosnia oleh diplomat Barat.” Inilah pemicu perang sipil Bosnia.
Kini, tidak kurang dari 11 ribu pasukan ditempatkan di Bosnia, Kosovo, dan Macedonia untuk menjaga perdamaian. Namun lebih dari itu, untuk menjaga kepentingan AS. Bekas wakil rakyat AS, Lee Hamilton berkomentar pada harian New York Times bahwa ‘kita telah mengontrol sepenuhnya daerah semenanjung Balkan. Pejabat AS telah mengambil alih kegiatan kenegaraan di wilayah bekas Yugoslavia. Kita berperan lebih dari sekedar diplomat.” Karen Talbot, ahli geopolitik mengkonfirmasi bahwa ‘kerja keras AS dan NATO untuk menduduki Kosovo dan praktisnya keseluruhan Yugoslavia dipicu oleh kekayaan sumber daya alam. Kosovo sendiri kaya dengan aneka tambang di belahan eropa bagian barat Rusia. Menurut New York Times, ‘daerah pertambangan Trepca, daerah terkaya di semenanjung Balkan, bernilai kurang lebih 5 bilyun dolar. Daerah tersebut kaya dengan emas, perak, timbal, zinc, kadmium yang menghasilkan keuntungan sebesar jutaan dolar per tahunnya.” Kosovo juga memiliki 17 bilyun ton cadangan batubara dan minyak bumi [3]. Presiden Clinton, secara tidak sengaja, kelepasan berbicara,’klaau kita ingin posisi ekonomi yang kuat di dunia, Eropa adalah kuncinya, dan ini terletak di Kosovo sebagai sumber utamanya.” [4].
Sejak berakhirnya pemboman, banyak sekali pangkalan militer AS di Balkan. Salah satunya terletak di Kosovo, yang diperkirakan sebagai terbesar sejak Perang Vietnam. Dominasi AS pada NATO berarti intervensi NATO di Balkan, yang akhirnya memperkuat pengaruh AS di wilayah tersebut. Bocoran dokumen Pentagon masa 1994-1999 menunjukkan laporan Rencana Pertahanan yang menyarankan agar AS ‘harus mencari jalan untuk menghalangi bangkitnya Eropa (pendirian pakta pertahanan yang hanya terdiri dari negeri2 eropa saja tanpa keanggotaan AS), yang bisa menihilkan peran NATO… Maka sangat penting untuk mempertahankan eksistensi NATO sebagai satu-satunya sistem pertahanan dan keamanan di Eropa, dan juga berfungsi sebagai alat AS untuk memberikan pengaruh dan partisipasi dalam mencampuri urusan internal keamanan Eropa.”
Ini semua menunjukkan bahwa ancaman pengaruh Rusia, adanya cadangan minyak di laut Kaspia, dan revitalisasi NATO (untuk mempertahankan pengaruh AS) adalah tujuan-tujuan sebenarnya dari kebijakan geopolitik AS dan intervensi Barat umumnya. Bahwa ribuan jiwa harus melayang demi tercapainya tujuan tersebut adalah harga yang AS tidak akan pernah ragu untuk membayarnya demi kelanggengan dominasinya di Eropa.

3. Dunia akan segera kehabisan minyak
Persaingan untuk meraih supremasi kekuasaan antara Jerman dan Inggris pada awal abad ke 20 memaksa kedua negara tersebut berlomba mencari bahan bakar pengganti batu bara untuk menjalankan mesin perang. Ditemukannya ladang minyak di Timur Tengah di tahun 1920an memicu berawalnya abad teknologi baru, perubahan tatanan masyarakat dan berpindahnya keseimbangan kekuatan global.
Pada akhirnya, bahan baker berbasis fosil akan habis. Hingga berakhirnya abad ke 20, kemungkinan habisnya minyak belum dibahas karena masih banyak cadangan minyak yang belum ditemukan. Teknologi untuk menyalakan pesawat tempur, tank, dan mobil masih dirancang untuk menggunakan bahan bakar fosil, terlepas dari tingginya harga minyak.
Puncak produksi minyak terjadi ditahun 1970an dimana separuh dari cadangan minyak yang ada telah terkonsumsi. Namun kenyataan ini tidak begitu diindahkan pada masa tahun 1970an. Kini, semua dunia khawatir bahwa minyak akan segera habis, suatu fakta sumber kepusingan geopolitik. Tanpa syak lagi, isu habisnya minyak bumi sebenarnya adalah penanda isu politik yang jauh lebih dalam.
Bahwa dunia akan segera kehabisan minyak adalah alasan Barat untuk menutupi kerakusannya. Ketika beberapa negara mulai panik mencari minyak, maka terbukalah borok barat dalam hal konsumsi minyak ini. Dunia Barat telah mengkonsumsi 50% dari sumber daya alam terpenting abad ke 21, tapi hanya memproduksi kurang dari 25% saja. Kerakusan Barat ini jauh melampaui kebutuhan Cina dan India terhadap energi. Khususnya, AS hanya memproduksi 8% minyak, namun mengkonsumsi 25% jumlah minyak yang ada.
Ketika konsumsi AS meningkat, maka kompetisi untuk meperebutkan sumber energi akan semakin ketat. Ini yang menyebabkan tanah dunia Islam semakin penting, terutama Iraq, untuk diduduki demi minyak.

4. Dunia Ketiga menjadi miskin karena tidak cukupnya jumlah pangan di dunia
Banyk sekali organisasi yang telah meneliti sebab musabab kemelaratan seperti kurangnya sumber daya alam, efek cuaca lokal, hingga kurangnya penerapan demokrasi. Prinsipnya tidak ada semacam persetujuan dikalangan ahli sosiologi dan lembaga penelitian mengenai penyebab utama kemiskinan dan kemelaratan. Anehnya, semua sepakat, bahwa jalan keluarnya adalah penerapan kapitalisme dan adanya pasar bebas. Padahal kalau saja kita lihat secara umum situasi negara dunia ketiga, umumnya, dan negara dunia islam, khususnya, beberapa faktor berikut adalah penyebab utama pemiskinan yang ada sekarang.
Fungsi IMF dan Bank Dunia dengan kebijakan perubahan strukturalnya yang terkenal telah menyengsarakan negeri klien seperti Pakistan, Turki, Indonesia, Bangladesh dan Mesir. Solusi yang diberikan lembaga keuangan internasional tersebut awalnya diperkirakan akan menyelamatkan negara-negara tersebut adalah dengan metoda perdagangan. Kenyataannya banyak sekali kendala yang dipasang oleh negara-negara maju supaya negara-negara berkembang tidak akan pernah bisa berkembang. Artinya, barang-barang yang diproduksi negara-negara maju harus diimpor oleh negara miskin. Memang teorinya sederhana, bahwa perdagangan akan meningkatkan kesejahteraan negara miskin. Itu sebabnya sektor swasta dilihat sebagai kunci pemicu pertumbuhan ekonomi dan penghilangan kemiskinan.
Contohnya, Pakistan membutuhkan investasi di bidang kesehatan, pendidikan dan infrastruktur sebelum ia mampu berkompetisi secara global. Namun, IMF dan Bank Dunia justru menyuruh pemerintah Pakistan untuk mengurangi subsidi di bidang-bidang diatas dan meningkatkan fokus ke arah ekspor. Kedua lembaga keuangan tersebut menyuruh Pakistan untuk berkompetisi melawan sektor swasta internasional yang jauh lebih kuat. Itu sebabnya, pertumbuhan ekonomi Pakistan malah semakin terpuruk.
Afrika juga dipaksa untuk untuk membayar hutang, sebagaimana terjadi semasa kolonial dulu. Hutang Afrika terjadi secara semena-mena dengan pemberian hutang bilyunan dolar dengan bunga yang sangat tinggi. Hutang Afrika juga termasuk hutang yang diberikan negara maju semasa pemerintahan diktator, dimana dana pinjaman itu dihamburkan dengan sepengetahuan negara-negara donor/pemberi hutang. Afrika Selatan, contohnya, mewarisi hutang semasa apartheid sekitar 46 bilyun dolar. Pemerintahan baru Afrika Selatan yang berkuasa setelah Apartheid berakhir, dipaksa untuk membayar hutang masa lalunya (atau hutang yang digunakan untuk membiayai penindasannya sendiri). Di tahun 1998 ACTSA (Gerakan Afrika Selatan) memperkirakan bahwa hutang sebesar 18 bilyun dolar digunakan untuk membiayai kebijakan apartheid dan 28 bilyun dolar adalah hutang yang ditanggung negara-negara tetangga afrika selatan untuk membiayai program untuk menghadapi destabilisasi atau imbas dari kebijakan apartheid, dimana berkisar sekitar 74% dari total hutang Afrika.
Situasi dunia Islam berasal dari penjajahan dan direkam dengan baik oleh David Fromkin, Profesor ahli Sejarah Ekonomi di Universitas Chicago. Ia bertutur,”Kekayaan luarbiasa dari Khilafah Uthmaniy telah dikuasai oleh pemenang perang. Namun orang tidak boleh lupa, bahwa kekhilafahan islam telah berusaha selama berabad-abad untuk menguasai Eropa Kristen. Maka tidak heran, apabila para pemenang perang akan memastikan agar khilafah tidak bisa terorganisir kembali, apalagi bangkit untuk mengancam Eropa kembali. Dengan pengalaman merkantilis yang lama, Inggris dan Perancis menciptakan negara-negara yang tidak akan pernah stabil dimana para penguasanya akan selalu tergantung dari negara lain supaya bisa tetap berkuasa. Maka pembangunan di negara-negara ciptaan kolonial akan selalu dimonitor dan dipastikan agar tidak mampu menjadi ancaman bagi Barat lagi. Kekuatan asing pun membuat kontrak dengan para penguasa boneka untuk menghisap kekayaan alam negara mereka, hingga keluarga raja menjadi semakin kaya sedangkan rakyatnya justru semakin terlantar.” [5].
Negara berkembang akan selalu menjadi miskin akibat kebijakan negara Barat. Jelasnya, bukan karena kekurangan pangan tetapi justru oleh konsumsi yang berlebihan oleh masyarakat Barat (yaitu sekitar 20% dari populasi dunia), namun menghabiskan 80% dari produksi pangan.

5. PBB menegakkan hukum internasional untuk mengatur hubungan dan menyelesaikan konflik internasional
PBB didirikan ditahun 1945 untuk ‘menyelamatkan generasi berikut dari derita peperangan.” Sejak itu, tidak kurang 250 konflik tercetus yang membuktikan kegagalan PBB dalam meraih tujuan didirikannya. Barat, dan juga para pembuat kebijakan dunia ketiga, melihat PBB sebagai institusi netral (tidak bias) yang terdiri dari 200 negara anggota, yang menjunjung tinggi nilai internasional, aksi multilateral, demokrasi, pluralisme, sekularisme, kompromi, dan hak asasi manusia.
Padahal, PBB sebenarnya adalah alat eksploitasi yang terlihat dari struktur organisasinya yang membiarkan penindasan yang dilakukan oleh kekuatan kolonial yang kini menjadi anggota tetap Dewan Keamanannya. Banyak peristiwa yang menunjukkan kelemahan PBB, seperti invasi Irak, penerapan hukum secara selektif pada Israel, kegagalan pembantaian muslim di Sebrenica, dan pembersihan etnis di Rwanda.
Pada dasarnya, PBB adalah organisasi internasional dimana 5 anggota tetap Dewan Keamanan telah menggunakan PBB sebagai alat kebijakan luarnegeri mereka. Bahkan apa yang disebut Hukum Internasional sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada hanyalah etika internasional. Kalaupun hukum internasional harus ada, ia memerlukan perangkat penegak hukum yang bersifat global atau supernasional. Karena kita tahu bahwa perangkat ini juga tidak ada, maka bisa dilihat bahwa hukum internasional baru digembar-gemborkan oleh negara-negara tertentu ketika sesuai dengan kepentingan masing-masing (neo-realisme) (cf. Waltz. K. 1979. ‘A Theory of International Politics’).

6. Dunia ketiga harus meliberalisasi ekonominya supaya berkembang
Dalam tiga abad terakhir, Kapitalisme telah mendominasi pembangunan internasional dan memonopoli perkembangan ekonomi serta memaksa diterapkannya kebijakan-kebijakan nya pada dunia. Macan ekonomi Asia seperti Cina, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Hongkong sering dikutip sebagai contoh sukses negara yang mengadopsi liberalisme sehingga berhasil meraih kemajuan. IMF dan Bank Dunia memproklamirkan industrialisasi dan ide ekonomi liberal akan mentransformasi ekonomi tradisional dan masyarakat. Pengaruh seperti ini akan menetapkan negara-negara miskin dalam jalur perkembangan sejalan dengan pengalaman negara-negara maju semasa revolusi industri dulu.
Kemiskinan adalah fakta yang ada pada mayoritas penduduk dunia. 3 bilyun jiwa hidup dibawah 2 dolar per hari, sedangkan 1,3 bilyun jiwa lainnya hidup kurang dari 1 dolar per hari. 1,3 bilyun jiwa hidup tanpa air bersih, 3 bilyun jiwa hidup di lingkungan yang tidak sehat dan 2 bilyun jiwa tidak memiliki akses penggunaan listrik. Liberalisme justru menjadi sebab ketimpangan kesejahteraan dan pemiskinan bagi mayoritas penduduk dunia. Banyak sekali survei yang menunjukkan bahwa liberalisme adalah biang kemelaratan. Tanggal 7 Desember 2006 adalah hari diluncurkannya laporan internasional yang dikeluarkan oleh Institut Global untuk Penelitian Perkembangan Ekonomi milik PBB. Hasilnya cukup mencengangkan bahwa penduduk dunia yang kaya (sekitar 1% dari total penduduk bumi) menguasai 40% dari asset kekayaan dunia dan 10% dari populasi dunia menguasai 85% dari total asset dunia [6].
Liberalisme telah dan akan terus membiarkan dunia barat untuk menghisap kekayaan dunia ini. Liberalisme juga tidak akan pernah berpihak pada dan menaikkan derajat kaum miskin, dan justru menjadi alat pemiskinan. Maka penerusan kebijakan ekonomi liberal di dunia ketiga adalah biang kemelaratan yang berkelanjutan.

7. Pemanasan global akibat pembangunan Cina dan India
Pemanasan global dan perubahan cuaca berarti penambahan suhu rata-rata secara global.
Global warming and climate change refer to an increase in average global temperatures. Kejadian alam dan aktifitas manusia diduga sebagai kontributor perubahan suhu secara global. Hal ini terjadi karena adanya “efek rumah kaca” dimana naiknya suhu diakibatkan terperangkapnya jenis gas di atmosfir tertentu seperti karbon dioksida (CO2).
Setiap beberapa tahun, ilmuwan bidang cuaca pada Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Suhu (IPCC) milik PBB mengeluarkan laporan yang menjelaskan secara detil perubahan cuaca yang terjadi. Secara garis besar, laporan ini menyarankan adanya penurunan emisi. Panel ini terdiri dari ratusan peneliti dunia. Di awal tahun 2007, IPCC telah mengeluarkan laporan ke 4 yang menyimpulkan bahwa mereka semakin yakin bahwa aktifitas manusia adalah penyebab kenaikan suhu “Pemahaman tentang pemanasan dan penurunan suhu mulai lebih baik sejak laporan Third Assessment Report (Evaluasi Ke3), yang memberikan keyakinan bahwa aktifitas manusia sejak taun 1750 memberikan efek perubahan cuaca yang cenderung memanas.” Definisi tentang ‘keyakinan’ merujuk ke tingkat kepastian hingga 90% tepat (di tahun 2001, baru 66% tepat).
Dari segi sejarah emisi, negara-negara industrialis berkontribusi terhadap 80% dari total terperangkapnya CO2 di atmosfir. Sejak tahun 1950, AS telah mengeluarkan emisi sebesar 50,7 bilyun ton karbon, sementara Cina (yang penduduknya 4,6 kali lebih banyak dibanding AS) dan India (yang populasinya 3,5 kali lebih banyak) mengeluarkan hanya sekitar 15,7 dan 4,2 bilyun ton, secara berurut. Tiap tahun lebih dari 60% emisi industri global berasal dari negara-negara industri, dimana hanya memiliki 20% populasi penduduk dunia.
Mayoritas pertumbuhan emisi di dunia maju berasal dari pesatnya industralisasi sejak era revolusi industri. AS dengan ekonomi senilai 14 trilyun dolar adalah sumber polusi terbesar dan selalu mengelak untuk turut serta dalam perjanjian penurunan emisi global. Pengurangan emisi bagi dunia Barat adalah pengurangan produksi yang bisa menghancurkan industri mereka. Pengurangan konsumsi bagi dunia barat ibarat praktik syirik bagi umat Islam. Demikian pula, tingkat konsumsi bahan bakar fosil di dunia maju jauh lebih besar ketimbang negara berkembang. Berkurangnya sumber daya alam tidak terbarukan adalah akibat konsumsi AS yang besarnya 5 kali lipat dari semua negara-negara lainnnya.
Pemanasan global adalah akibat industralisasi dunia Barat yang hanya terpaku pada kenaikan untung. Meskipun sudah ada teknologi yang mengarah kepada emisi yang bersih, harganya masih mahal dan tidak laku dijual. Cina dan India baru tumbuh dalam 20 tahun terakhir dan pemanasan global sudah terjadi sebelumnya. AS yang getol mengkambinghitamkan Cina dan India adalah usahanya untuk meredam laju pertumbuhan kedua negara tersebut.

8. Umat Muslim dunia tidak menginginkan Islam
Selama bertahun-tahun, Barat selalu mengatakan bahwa muslim di seluruh dunia menginginkan demokrasi dan kebebasan ketimbang Islam. Mereka juga mengatakan bahwa hanya kaum minoritas muslim saja seperti di Pakistan dan Afganistan yang menginginkan Islam sedangkan mayoritas umat Islam mengagumi dunia barat dan ingin hidup dibawah naungan kapitalisme. Namun kini, adalah kaum muslim modernis yang menyatakan bahwa dunia muslim tidak ingin Islam dan tidak akan pernah siap untuk Islam. Ironisnya, Barat malah mulai menyadari bahwa ternyata islamlah yang dirindukan oleh umat muslim dan Barat berjuang keras untuk menghadapi setiap kemungkinan ancaman kebangkitan Islam.
Dewan intelijen nasional (NIC) AS telah merilis laporan Global Proyek 2020 yang bertema ‘Pemetaan Masa Depan Global.’ NIC adalah masyarakat intelijen AS yang berfungsi sebagai pusat penelitian strategis jangka menengah dan panjang, diantaranya membuat skenario yang akan dihadapi dunia pada tahun 2020. Laporan mereka menyimpulkan bahwa daya tarik Islam saat ini adalah seruan untuk kembali ke sumber keaslian islam yang telah melahirkan peradaban islam di masa lalu dan yang akan membawa perubahan substansial di masa datang dibawah kepemimpinan umum Khilafah Islamiyah. Laporan ini juga menggambarkan skenario fiktif bagaimana pergerakan global yang dimotori oleh ‘identitas radikal keagamaan akan bangkit’ [7]. Lebih jauh lagi, pemerintahan AS telah menyiapkan perencanaan yang matang untuk menghadapi Khilafah di masa mendatang. Banyak lagi laporan dari lembaga lain dari AS sendiri yang mengakui bahwa pergerakan ideologis untuk mengembalikan Khilafah memiliki simpatisan yang mengakar secara global.
CIA juga sudah membangkitkan program intel semasa perang dingin lalu untuk mulai membidik media muslim, ulama, dan partai politik Islam. CIA juga menerima dukungan dana, sumber daya manusia dan asset lainnya secara eksponensial untuk mempengaruhi masyarakat muslim di seluruh dunia.
Di saat yang sama, banyak survey, laporan penelitian dan pengakuan pembuat kebijakan bahwa muslim secara global telah menolak nilai Barat. Ini artinya suatu kegagalan kolosal padahal Barat saat ini berada dalam posisi sebagai penguasa adidaya tunggal. Maka perang untuk memikat hati dan pikiran serta penguasaan wilayah negeri muslim adalah usaha-usaha mati-matian untuk menghambat bangkitnya sistem pemerintahan alternatif (yaitu khilafah). Lebih jauh lagi, ini menunjukkan umat Islam mungkin tidak lama lagi akan meraih cita-citanya untuk kembali kepada Islam.

9. Israel tidak pernah terkalahkan dan terbukti dengan kemenangannya di 4 perang, maka dunia islam harus menerima kenyataan ini bahwa keberadaan israel adalah suatu keniscayaan.
Sejak berdiri di tahun 1948, Israel dan militernya selalu diliputi mitos sebagai kekuatan yang tak terkalahkan. Menariknya, mitos tersebut tidak dimotori oleh Israel sendiri tapi justru oleh para pemimpin pengkhianat yang menguasai umat Islam.
Kinerja militer Israel pada perang 1948, 1956, 1967, dan 1973 melawan umat Islam sering dikutip sebagai superioritas militer Israel. Implikasinya, konflik melawan Israel secara langsung sering dianggap oleh negara-negara Arab sebagai strategi yang tidak menguntungkan, sehingga mereka terpaksa untuk bernegosiasi dengan Israel. Konsekuensi dari negosiasi tentunya adalah pengakuan terhadap kedaulatan dan keberadaan Israel melalui proses perdamaian. Dalam merangkum fakta kekuatan militer Israel, kita perlu mengingat pertanyaan penting: Apa tujuan pembuatan dan penyebaran mitos ini?
Perang 1948- Pendirian Israel
Perang 1948 berujung pada pendirian negara Israel. Secara sekilas, sulit dipahami bagaimana mungkin 40 juta penduduk Arab tidak mampu menundukkan 600,000 orang Yahudi. Studi mendalam menunjukkan bahwa pembelaan terhadap nasib palestina justru melahirkan pendirian Israel itu sendiri.
Pembelaan terhadap Palestina diwakili terutama oleh Raja Abdullah dari Yordania Raya, Raja Farook dari Mesir, dan Mufti Palestina, dimana semuanya adalah penguasa muslim yang lemah dan dimanipulasi oleh Inggris. Raja Abdullah yang dipandang sebagai pembela rakyat Palestina, sejatinya adalah kebohongan. Telah diketahui bahwa dia dan Ben Gurion (Perdana Menteri Israel Pertama) adalah sesama teman semasa belajar di Istanbul dan dalam pertemuan rahasia, Abdullah (yang kemudian menjadi penguasa Yordania) telah mengakui keberadaan Israel dan mendapat imbalan untuk menguasai wilayah yang dihuni mayoritas bangsa Arab Palestina.
Abdullah memiliki Legiun Arab, suatu unit militer yang terdiri dari 4500 prajurit terlatih yang dipimpin oleh perwira Inggris bernama Jendral John Glubb. Dalam biografinya, Glubb mengatakan bahwa dia diperintah secara tegas untuk tidak memasuki daerah yang dikontrol oleh Yahudi. Mesir juga justru memperlemah serangan terhadap Israel ketika Nakrashi Pasha, perdana menteri Mesir justru mengirim tentara relawan yang baru saja diorganisir di bulan Januari pada tahun itu. Yordania juga memperlambat kedatangan pasukan Irak yang memasuki wilayahnya sehingga serangan terhadap Israel pun dimentahkan. Ini sebabnya ketika seorang Ulama yang buta matanya dihadirkan untuk mengangkat semangat Legiun Arab, Ulama tersebut mempermalukan Raja Abdullah ketika sang ulama berkata,’ Wahai Tentara! Andai saja kalian adalah Tentara Kami!” (ini menunjukkan bahwa tentara Legiun Arab sebenarnya tidak lain adalah tentara Inggris).
Meskipun satuan tempur Muslim berjumlah 40 ribu serdadu, hanya 10 ribu saja yang terlatih baik. Sementara itu kekuatan Zionis Israel terdiri dari 30 ribu tentara, dimana 10 ribu orang untuk pertahanan lokal dan 25 ribu lainnya untuk penjagaan wilayah. Disamping itu sekitar 3000 teroris Irgun dan Stern memiliki senjata lengkap dari AS dan Inggris. Meski tentara Israel memang terlatih, pengkhianatan penguasa muslimlah yang justru memastikan kemenangan Yahudi di Palestina.
Krisis Kanal Suez tahun 1956
Konflik ini sebenarnya bukan bertujuan untuk membebaskan palestina namun adalah konflik antara Inggris melawan AS untuk mengontrol kanal Suez.
AS melihat Mesir sebagai sekutu strategis demi menancapkan pengaruh di Timur Tengah. Dengan CIA, AS mengatur penjatuhan rezim Pro Inggris Raja Farook pada tahun 1952 dengan menaikkan perwira militer yang dipimpin oleh Jamal Abdul Nasser. CIA melakukan proyek yang dikenal sebagai proyek ‘Mencari Muslim ala Billy Graham’ di tahun 1951. Mike Copeland, intel CIA merilis informasi rahasia di biografinya pada tahun 1989 yang berjudul The Game Player yang menceritakan kisah sukses CIA dalam mengkudeta boneka Inggris raja Farook. Copeland yang merancang kudeta ini mengatakan bahwa ‘CIA membutuhkan figur yang kharismatik yang bisa mengendalikan dan membelokkan sentimen anti Amerika yang tengah menggunung saat itu.’ Dia juga menjelaskan bahwa CIA dan Nasser berada dalam perjanjian dengan Israel. Bagi Nasser, seruan perang terhadap Israel tidaklah penting. Prioritas Nasser adalah menghentikan penguasaan Inggris terhadap zone kanal Suez. Musuh Nasser adalah Inggris, bukan Israel.
Di tahun 1956, Nasser menjalankan perintah Amerika untuk menasionalisasi Kanal Suez. Sebagai jawabannya, Inggris menarik Perancis dan Israel untuk terlibat. Ini terlihat dari ungkapan sejarawan Corelli Barnett dalam bukunya ‘Jatuhnya Kekuasaan Inggris’ , yaitu ‘Perancis memusuhi Nasser karena Mesir membantu pemberontak Aljazair dan memiliki keterikatan emosi dengan kanal Suez. Bukankah sejatinya adalah Perancis yang membangun kanal Suez. Israel juga memiliki kepentingan melawan Nasser karena Fedayeen Palestina yang menyerang Israel dan juga blokade Mesir terhadap selat Tiran.’ Maka Sir Anthony Eden (Perdana Menteri Inggris) membuat rencana rahasia bersama Perancis dan Israel [8]. Barnett mengatakan bahwa konflik dipicu ketika ‘Israel akan menyerang Mesir dari semenanjung Sinai.’ Setelah itu ‘Inggris dan Perancis akan memberikan ultimatum bagi semua pihak untuk menghentikan perang atau mereka akan terjun dan terlibat demi melindungi Kanal Suez.’ [9]
AS dan Rusia lalu melakukan tekanan diplomatik terhadap Inggris untuk mundur. Rusia secara langsung mengancam Paris dan London dengan serangan nuklir. Tekanan internasional yang luarbiasa ini memaksa Inggris dan Perancis untuk meninggalkan Mesir. Pemerintahan AS dibawah Eisenhower juga mengancam Israel dengan sangsi ekonomi apabila Israel tidak mundur dari wilayah Mesir yang ia duduki, suatu hal yang akan sangat merugikan Israel kalau ancaman ini tidak diindahkan. Akhirnya, pemenang dari konflik ini tidak lain adalah AS yang akhirnya berhasil mendominasi percaturan politik timur tengah.
Perang 6-Hari 1967
Ini adalah perang yang mewakili babak baru konflik antara Inggris dan Amerika dalam persaingan untuk mengontrol Timur Tengah. Meskipun Inggris telah kehilangan kuku di wilayah ini selama 11 tahun, ia masih memiliki pengaruh yang cukup penting terutama dengan anteknya di Yordania, Syria, dan Israel. Untuk melemahkan Nasser, Inggris berusaha menarik Israel dan menyeret Mesir kedalam perang dimana Israel akan menguasai wilayah yang bisa dipakai sebagai negosiasi dalam pertukaran tanah demi perjanjian damai. Pada tanggal 5 juni 1967, Israel melakukan penyerangan mendadak yang menghancurkan 60% angkatan udara Mesir dan 66% pesawat tempur milik Syria dan Yordania.
Dari sisi Yordania, Isael berhasil menguasai Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Raja Hussein, sebelum perang dimulai, telah memposisikan satuan tempurnya di wilayah yang jauh dari wilayah pertempuran. Dalam waktu 48 jam, Israel telah menguasai kota-kota di Tepi Barat dan sebagian besar serdadu Yordania yang tewas ditembaki Israel, berada dalam posisi mengundurkan diri. Disamping itu, Israel juga menguasai dataran tinggi Golan di hari ke 6. Anehnya, saat berita jatuhnya dataran Golan ke tangan Israel dikeluarkan oleh radio Syria, pasukan Syria justru jelas-jelas masih menguasai dataran Golan! Israel juga menghantam boneka AS yaitu Nasser dengan menguasai Sharm al Sheikh dan jalur perairan selat Tiran. Tujuan untuk melemahkan Nasser telah tercapai sehingga membantu kepentingan Inggris. Israel berhasil menguasai daerah tambahan dan bisa menggunakannya sebagai asset untuk tawar menawar di meja perundingan, dimana status penguasaan tanah pada tahun 1967 selalu diangkat ketimbang status pada tahun 1948.
used as a basis for negotiations rather then the status of 1948.
Perang 1973: Pengkhianatan oleh Para Penguasa Muslim
Perang dadakan yang dicetuskan oleh Mesir dan Syria pada Oktober 1973 melawan Israel menunjukkan bahwa perang tersebut memiliki tujuan tertentu dan tidak berhubungan untuk membebaskan Palestina, bahkan bukan juga untuk membebaskan dataran tinggi Golan (yang sebenarnya ditujukan sebagai alat perdamaian antara Syria dan Israel). Tujuan perang 1973 adalah untuk memperkuat posisi Anwar Sadat dan Hafez al Assad, sebagai para pemimpin yang relatif baru di masanya yang rawan untuk dikudeta secara militer. Khususnya Sadat, ia berada dalam tekanan untuk menggantikan pemimpin kharismatik Nasser.
Mohammed Heikal, editor Al Ahram dari 1957 - 1974, yang menyaksikan perang, mengungkapkan motif Anwar Sadat dalam bukunya ‘Jalan menuju Ramadhan’ dimana ia mengutip perasaan Sadat hingga tercetusnya perang. Heikal menulis bahwa Mohammed Fowzi, salah satu Jendral Mesir, mengatakan dengan beranologi duel Samurai bahwa Mesir terjun ke dalam perang dengan menggunakan –secara sengaja—pedang yang pendek. Artinya, Mesir memang memiliki tujuan atau motif tertentu dengan melakukan perang secara terbatas.
Anwar Sadat memang tidak pernah berniat untuk berperang melawan Israel terlalu lama. Itu sebabnya, ia justru mencari perdamaian dengan Israel ketika pasukan Mesir berada di atas angin dalam pertempuran. Dalam 24 jam pertama, pasukan tempur Mesir menghajar benteng Bar-Lev, yang digembar-gemborkan sebagai pertahanan solid, dengan jumlah korban hanya 68 prajurit. Sementara itu 2 divisi Syria dan 500 tank menyapu dataran tinggi Golan dan merebut kembali wilayah yang dikuasai Israel pada tahun 1967. Dalam dua hari, Israel kehilangan 48 pesawat termpur dan 500 tank. Di tengah peperangan, Sadat mengirim pesan pada presiden AS bahwa tujuan perang ini adalah ‘perdamaian di Timur Tengah dan bukan perjanjian setengah-setengah.’ Lebih jauh lagi, kalau Israel bersedia melepaskan wilayah Mesir yang mereka duduki, maka Mesir akan melakukan perjanjian damai dibawah PBB atau pihak yang netral.
Maka meskipun, Sadat memiliki posisi diatas angin, ia justru ingin bernegosiasi. Penolakan Sadat untuk terus melanjutkan pertempuran dan meneruskan gelombang penyerangan terhadap Sinai, ternyata memberik kesempatan pada Israel untuk memobilisir kekuatan dan merebut kembali wilayahnya dengan bantuan AS. Konflik berakhir 25 Oktober setelah Israel melanggar perjanjian gencatan senjata sebelumnya.
Semua perang melawan Israel menunjukkan bahwa penguasa Muslim tidak pernah serius melawan Israel dan tidak pernah bertujuan untuk membebaskan Palestina. Kemenangan Israel sebenarnya adalah mitos yang dipromosikan untuk melemahkan semangat umat Islam. Pengkhianatan sebenarnya dilakukan oleh para penguasa muslim yang berkolaborasi untuk membangun dan menyebarkan mitos keunggulan Israel. Perang di dunia Arab menunjukkan bahwa negeri-negeri muslim tidak pernah disatukan dalam peperangan dalam satu tujuan: menghancurkan Israel. Sebaliknya, setiap peperangan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, kecuali pembebasan Palestina dan penghapusan Israel. Maka tujuan dalam mengancam Israel bukanlah tujuan hakiki, meskipun sebenarnya pasukan Arab memiliki potensi yang luarbiasa.

Kesimpulan
Sejarah selalu ditulis oleh para pemenang, dan ini juga terjadi pada geopolitik. Banyak sekali mitos yang ada termasuk sebab-sebab terjadinya perang dunia I dan II, dimana bertujuan untuk membodohi penduduk di Barat itu sendiri. Superioritas militer AS pun tumbang di perang Iraq dan Afganistan, demikian pula dipermalukannya Israel oleh Hizbullah pada perang Lebanon tahun 2006. Muslim harus selalu waspada bahwa meskipun situasi umat secara global nampak sangat buruk, banyak dari gambaran-gambaran pesimis sebenarnya bisa berubah dengan mudah

Senin, Juni 09, 2008

LOVE U MOM, I LOVE U DAD..!!!

Sekedar perenungan dari teman.....

Waktu kamu berumur 1 tahun,dia menyuapi dan memandikanmu .... sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam.
Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan .
sebagai balasannya ... kamu kabur waktu dia memanggilmu
Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang .. sebagai balasannya ... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai
Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya .. kamu corat coret tembok rumah dan meja makan
Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur
Waktu berumur 6 tahun,dia mengantarmu pergi ke sekolah ... sebagai
balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ...!"
Waktu berumur 7 tahun,dia membelikanmu bola .... sebagai balasannya .kamu melemparkan bola ke jendela tetangga
Waktu berumur 8 tahun,dia memberimu es krim ... sebagai balasannya.. .kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu
Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu .sebagai balasannya ... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

Waktu kamu berumur 10 tahun,dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ... sebagai balasannya .... kamu melompat
keluar mobil tanpa memberi salam
Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop .. sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain
Waktu kamu berumur 12 tahun,dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya .... kamu tunggu sampai dia keluar rumah
Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya .sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode
Waktu kamu berumur 14 tahun,dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan .. sebagai balasannya ... kamu nggak pernah menelponnya.
Waktu kamu berumur 15 tahun,pulang kerja dia ingin memelukmu ...
sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu
Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil ...sebagai balasannya ... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa
mempedulikan kepentingannya
Waktu kamu berumur 17 tahun,dia sedang menunggu telpon yang penting .. sebagai balasannya ... kamu pakai telpon nonstop semalaman,
waktu kamu berumur 18 tahun,dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya ... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun,dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu
ke kampus pada hari pertama ... sebagai balasannya ... kamu minta
diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.
Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah,
cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang."
Waktu kamu berumur 21 tahun,dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya ... kamu bilang "Aku nggak mau
seperti kamu."
Waktu kamu berumur 22 tahun,dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus
perguruan tinggi .. sebagai balasanmu ... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri
Waktu kamu berumur 23 tahun,dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah
barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu
Waktu kamu berumur 24 tahun,dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya
tentang rencana di masa depan ... sebagai balasannya .. kamu mengeluh
"Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."
Waktu kamu berumur 25 tahun,dia membantumu membiayai pernikahanmu ..
sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Waktu kamu berumur 30 tahun,dia memberimu nasehat bagaimana merawat
bayimu ...... sebagai balasannya ... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."
Waktu kamu berumur 40 tahun , dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah
satu saudara dekatmu .. sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali,
nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya ... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu
teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam
HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA ..
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .. BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI
JIKA ORA NG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU

Subject: I Love You Mom

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

OngKos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar- binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.
1) OngKos mengandungmu selama 9bulan- GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu - GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar" .

Jlka kamu menyayangi ibumu,"FORWARD" lah Email ini kepada sahabat-sahabat anda.
1 orang :Kamu tidak sayang ibumu
2-4 orang :Kamu sayang ibumu
5-9 orang :Bagus! Ternyata Kamu Sayang juga Kepada Ibumu
10/lebih : Waahhhh....Kamu akan disayangi Ibumu dan juga semua orang...

APAKAH KAMU SAYANG ORANGTUAMU?? ??
KARENA ORANGTUAMU SELALU MENYAYANGIMU.
Mother is the best super hero in the world.

Minggu, Juni 08, 2008

The New Seven Wonders Nominee in The World

Daftar Nominasi Tujuh Keajaiban Dunia ini didapat dari situs new7wonders.com. Meski tidak secara formaal, namun terlihat sangat menarik karena ternyata banyak sekali anugerah yang diberikan Alloh SWT untuk ummat manusia di muka bumi ini. Sungguh sayang kalau justru makhluk yang disuruh merawat dan menjaga isinya ini malah menjadi aktor pengrusak alam semesta. Bukan masalah tempat mana yang akan menjadi the new seven wonder in the world, namun justru hakikat dari itu semua;ternyata alam ini menyimpan triliunan rahasia keajaiban yang ada di luar nalar manusia.

(1) Ha Long Bay (Vietnam)
(2) Tubbataha Reef (Filipina)
(3) Pantao Cox's Bazar (BANGLADESH)
(4) Chocolate Hills (PHILIPPINES)
(5) Ganges, River (BANGLADESH/ INDIA)
(6) Puerto Princesa Subterranean River National Park (PHILIPPINES)
(7) Mount Everest, Mountain (NEPAL)
(8) Amazon River, River/Forest (BOLIVIA/ BRAZIL/ COLOMBIA/ ECUADOR/ PERU/ VENEZUELA)
(9) Mount Fuji (JAPAN)
(10) Mayon Volcano (PHILIPPINES)
(11) Cocos Island, Island (COSTA RICA)
(12) Ein Gedi, Oasis (ISRAEL)
(13) Pinnacles Desert, Desert (AUSTRALIA)
(14) Fernando de Noronha, Archipelago (BRAZIL)
(15) Colca Canyon, Canyon (PERU)
(16) Coatepeque Lake, Crater Lake (EL SALVADOR)
(17) Grand Canyon, Canyon (UNITED STATES)
(18) Komodo National Park, National Park (INDONESIA)
(19) Big Sur, Beach (UNITED STATES)
(20) Niagara Falls, Waterfall (CANADA/ UNITED STATES)
(21) Great Barrier Reef, Coral Reef (AUSTRALIA)
(22) Angel Falls, Waterfall (VENEZUELA)
(23) Lake Atitlan, Lake (GUATEMALA)
(24) Lomas de Lachay, National Park (PERU)
(25) Lake Titicaca, Lake (BOLIVIA/ PERU)
(26) Machu Picchu, Ecological Reserve (PERU)
(27) Jeju Island (KOREA)
(28) Dead Sea, Lake (ISRAEL/ JORDAN/ PALESTINIAN)
(29) Al-hasa Oasis (SAUDI ARABIA)
(30) Bora Bora, Island (FRENCH POLYNESIA)
(31) Iguazu Falls, Waterfall (ARGENTINA/ BRAZIL)
(32) Victoria Falls, Waterfall (ZAMBIA/ ZIMBABWE)
(33) Yakushima, Island (JAPAN)
(34)Khao Yai, National Park (THAILAND)
(35) Krakatau, Volcanic Islands (INDONESIA)
(36) Lake Toba (INDONESIA)
(37) Galapagos Islands, Archipelago (ECUADOR)
(38) Platano, Forest (HONDURAS)
(39) K2, Mountain (CHINA/ PAKISTAN)
(40) Bukit Timah Nature Reserve (SINGAPORE)
(41) Maldives, Archipelago (MALDIVES)
(42) Chitwan, National Park (NEPAL)
(43) Mount Kilimanjaro, Volcano (TANZANIA, UNITED REPUBLIC OF - Africa)
(44) Los Roques, Archipelago (VENEZUELA)
(45) Mekong River (CAMBODIA/ CHINA/ LAO PEOPLE'S DEMOCRATIC REPUBLIC/ MYANMAR/ THAILAND/ VIET NAM)
(46) Ko Phi Phi, Island (THAILAND)
(47) The Twelve Apostles, Rock Formation (AUSTRALIA)
(48) Gran Sabana, Valley (VENEZUELA)
(49) Huangshan Mountain (CHINA)
(50) One Hundred Trees Oasis, Oasis (CHINA)
(51) Blue Grotto, Cave (ITALY)
(52) Canaima National Park, National Park (VENEZUELA)
(53) Flaming Cliffs, Rock Formation (MONGOLIA)
(54) Davolja Varos, Rock Formation (SERBIA)
(55) Kali Gandaki, River (NEPAL)
(56) Auyantepui, Mountain (VENEZUELA)
(57) Black Forest, Forest (GERMANY)
(58) Loch Ness, Lake in Scotland (UNITED KINGDOM)
(59) Jeita Grotto (LEBANON)
(60) Yangtze River (CHINA)
(61) Baikal, Lake (RUSSIAN)
(62) Guilin Mountains (CHINA)
(64) Kalahari, Desert (NAMIBIA)
(63) Cueva del Guacharo, Cave (VENEZUELA)
(65) Belize Barrier Reef, Reef (BELIZE)
(66) Great Blue Hole, Underwater Sinkhole (BELIZE)
(67) Ayers Rock (Uluru), Rock Formation (AUSTRALIA)
(68) Cappadocia, Rock Formation (TURKEY)
(69) Wadi Rum, Desert (JORDAN)
(70) Aletsch Glacier, Glacier (SWITZERLAND)
(71) Mont Blanc (Alps), Mountain Peak (FRANCE/ ITALY)
(72) Laguna Colorada, Lagoon (BOLIVIA)
(73) Phang Nga Bay, Bay (THAILAND)
(74) Wulingyuan, Rock Formation (CHINA)
(75) Rara Lake, Lake (NEPAL)
(76) Azul, Waterfall (MEXICO)
(77) McKenzie Falls, Waterfall (AUSTRALIA)

Kamis, Maret 06, 2008

Haram Hukumnya Menikah Dengan Gadis Sekantor

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa baru. Setelah diadakan rapat dan diskusi diantara para pemimpin MUI dan dewan pakarnya, dan juga telah ditimbang berdasarkan ayat-ayat alquran dan hadis nabi yang terpercaya sahihnya, maka MUI mengeluarkan fatwa : "HARAM HUKUMNYA BAGI SEORANG LAKI-LAKI UNTUK MENIKAH DENGAN GADIS SEKANTOR"
Fatwa MUI ini telah menimbulkan perdebatan yang sangat sengit antara yang pro dan kontra. Bahkan banyak pihak yang menyatakan bahwa MUI telah gegabah mengambil keputusan tersebut. Untuk mencari tahu alasan MUI mengeluarkan fatwa tersebut, maka wartawan Republika mewawancarai sekretaris umum MUI Prof.Dr. Din Syamsudin.

Inilah isi wawancara tersebut:
Wartawan: "Pak Syamsudin, bagaimana MUI bisa mengeluarkan fatwa haram untuk menikahi gadis sekantor?"
Prof.Dr.Din Syamsudin: "Emang haram, karena menikahi satu orang gadis aja berat, apalagi satu kantor, kan itu banyak jumlahnya... .


please deh...


Jangan serius amat ya.... kayak aku neh sambil menunggu keputusan sallary yang delay iseng2 ajah ah...

Sabtu, Maret 01, 2008

Konsep ABCD bagi Tukang Ojek (2-habis)

by noenx's
HASIL yang dilakukan komunitas tukang ojek yang seolah tidak mengenal lelah untuk terus memberi penyuluhan tentang HIV/AIDS tersebut, menurut Novi, memang terbukti di lapangan. Paling tidak dari daya tarik alias atensi tersendiri yang diberikan para WPS di lapangan menunjukkan hal positif.
Ia melihat, ternyata kemampuan para tukang ojek sebagai media penyampai bisa diandalkan menjadi satu di antara agen efektif untuk memberi keterangan dan hal positif lainnya yang mampu memberi kesadaran tentang bahayanya beberapa tindakan yang bisa menyebabkan seseorang terkena virus HIV.
Sementara itu Direktur Eksekutif YBS, Harmoni, mengungkapkan pihaknya saat ini memang terus menerus menjadikan tukang ojek sebagai sasaran tembak utama program sosialisasi HIV/AIDS, terutama di kalangan pekerja seks.
Meski saat ini sistem pelatihan tidak seperti dulu yang mengumpulkan para tukang ojek dalam satu wadah acara guna memberikan materi secara langsung, namun obsesi lembaganya terus berkelanjutan dengan lebih intens turun ke lapangan menyambangi para tukang ojek.
“Perhatian kita terutama ditujukan pada tukang ojek yang tidak terkoordinasi alias selalu berpindah-pindah alias tidak memiliki pangkalan tertentu. Biasanya kita adakan itu saat mereka berada di pasar,” ujar Harmoni.
Tentang jumlah tukang ojek yang telah mengikuti pelatihan yang digelar lembaganya, pria setinggi 175 cm ini tidak tahu persis. Namun pihaknya telah melakukan pelatihan sebanyak tiga gelombang dengan rataan peserta 30 orang per gelombang.
“Namun itu bukan jumlah aslinya, karena di luar itu kita juga memberi penyuluhan, semacam pelatihan, terhadap tukang ojek di beberapa tempat yang jumlahnya tidak bisa diketahui secara pasti, yang jelas kita sudah cukup banyak memberi pelatihan terhadap tukang ojek di kota Gurindam ini,” sebut Harmoni.
Saat ditanya kemungkinan tukang ojek tetap berfungsi sebagai agen, Harmoni menyebut kemungkinan fungsi itu tetap ada karena tidak adanya pengawasan secara terus menerus terhadap aktifitas mereka setiap harinya.
Hanya saja ia percaya jika kelompok-kelompok tukang ojek yang telah ia beri pengertian tentang bahaya HIV/AIDS tidak akan menjadi agen. “Jaminannya memang tidak ada sama sekali, namun dari prilaku mereka kita percaya mereka akan berbuat yang positif, itu juga demi kepentingan lingkungan mereka kan,” imbuh Harmoni.
Ia menyebut tukang ojek yang memiliki pangkalan tetap menjadi objek paling bagus untuk menjadi agen penyuluh HIV/AIDS. Pemberi semangat bagi mereka tidak lain adalah perhatian yang kontinyu atas kinerja mereka. “Dan itu terus kita lakukan,” katanya pendek.
Bagi para tukang ojek tersebut, penyemangat terbesar untuk bekerja maupun mensosialisasikan tentang HIV/AIDS datang dari lingkungan keluarga. Hal itu sudah terbukti pada Madi, yang memiliki keluarga mendukung penuh aktifitasnya, baik sebagai tukang ojek maupun sekaligus penyuluh. Contoh nyata ada pada Ana, istri Madi.
Saat pertama kali suaminya memutuskan untuk berprofesi sebagai tukang ojek dan mangkal di sebuah kawasan lokalisasi besar di kota Tanjungpinang, Ia mengaku setengah keberatan Namun setelah diberi pengertian mendalam dari suaminya, tak urung justru kemudian berbalik mendukung.
“Sebelumnya dia sudah mengatakan dan menjelaskan kepada saya tentang pekerjaan dan posisinya setiap hari. Jadi saya tidak perlu khawatir karena saya percaya dengan suami saya, toh yang penting dia mendapat pekerjaan dan hasil jerih payah yang halal,” katanya.
Rasa ikhlas dan penuh percaya pada suaminya ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Meski mengaku hidup serba pas-pasan, namun rasa bangga menyelinap di dada wanita ini. Selain sebagai tukang ojek, kapasitas suaminya yang sekaligus sebagai penyuluh “dadakan” bagi virus HIV dan penyakit AIDS menjadi warna tersendiri, ternyata suaminya masih bisa berguna bagi orang lain.
“Pokoknya gak masalah dia mau berpangkalan di manapun, yang penting tidak menyalahgunakan kepercayaan saya, karena saya sudah percaya 100 persen pada suami,” tutur Ani.
Penuturan Ani tersebut menandakan betapa kepercayaan dan kesetiaan bisa mendatangkan sebuah manfaat, yakni tidak akan adanya perselingkuhan yang menjurus pada gonta-ganti pasangan dalam berhubungan seksual. Jika ini bisa dilakukan, tidak hanya dalam lingkup tukang ojek namun secara keseluruhan keluarga Indonesia, bisa menjadi penghambat persebaran HIV/AIDS. (persda network/nurfahmi)

Konsep ABCD bagi Tukang Ojek (1)

by noenx's
KOORDINATOR Klinik Batu 15, Novira Damayanti menyebut data klinik yang ada ditempatnya menyebutkan saat ini cakupan layanan BCC sudah di level pada WPS langsung mencapai 100 persen pada tahun 2005 dan WPS tidak langsung mencapai 90 persen. Tahun ini sudah mencapai 100 persen. Namun di beberapa lokalisasi cakupan layanan ini sudah 100 persen sehingga meminimalisir kemungkinan adanya IMS, HIV/AIDS.
Secara umum terdapat gambaran proporsi jumlah ODHA pada sub populasi rawan HIV di kota Tanjungpinang. Pada pelanggan Pekerja Seks (PS) mencapai 4 persen, pasangan pelanggan PS justru 0 (nol) persen, WPS langsung mencapai 9 persen, WPS tak langsung mencapai 7 persen dan waria sebesar 23 persen.
Mengenai keberadaan tempat atau lokasi persebaran ODHA di kota Gurindam, beberapa wilayah sudah terdeteksi. Wilayah kota sangat dominan seperti di kawasan Batu 3, Suka Berenang, Batu 6 dan kawasan pusat keramaian malam seperti kedai kopi dengan prilaku seperti halnya manusia sehat biasa, sehingga hampir tidak ada orang atau pelanggan yang tahu jikalau WPS tersebut sudah mengidap virus HIV, bahkan mungkin sudah pada tahap AIDS, meski mungkin masih dalam stadium I.
Di kota Tanjungpinang sendiri terdapat beberapa kategori pelanggan Wanita Pekerja Seks (WPS), di antaranya terdapat golongan penduduk setempat, pendatang WNI, pendatang WNA dan tidak terdeteksi dari mana asal muasal pelanggan tersebut.
Prosentase tertinggi asal pelanggan menurut jenis WPS langsung dipegang kategori penduduk setempat yang mencapai 61,5 persen. Sedangkan prosentase tertinggi asal pelanggan WPS tak langsung, termasuk di dalamnya WPS panggilan/eksklusif, adalah pendatang WNA yang mencapai angka 69,4 persen.
Sementara khusus kategori pelanggan lokal, prosentase tertinggi pemakai WPS langsung ditunjukkan oleh jenis Pegawai Swasta yang mencapai 20,2 persen dan terendah diisi golongan PNS dan pengangguran yang sama-sama memiliki nilai 0,4 persen. Kategori WPS tak langsung, persentase pelanggan tertinggi dipegang pegawai swasta dengan 10,3 persen dan terendah didapat golongan pelajar/mahasiswa dan pegawai swasta yang sama sekali tidak memakai WPS tak langsung.
Data tambahan yang didapat dari YBS menyebutkan saat ini keseluruhan WPS langsung di Batu 15 sudah menggunakan kondom 100 persen. Maksud pemakaian 100 persen tersebut didasarkan pada survei melalui perlakuan semacam absensi di setiap rumah dan saat WPS tersebut keluar dari lingkungan lokalisasi. Bagi mereka yang keluar terlebih dahulu selalu melapor melalui “pintu absensi” guna menunjukkan kondom.
“Mungkin kita tidak tahu apa yang dilakukan mereka di luar sana atau pas melayani tamu di dalam rumah, namun paling tidak ternyata selama kita berada di sana dan kita rutin melakukan pemantauan, tercatat mereka selalu menggunakan kondom, sehingga kita berani mengklaim mereka semua menggunakan alat pengaman tersebut,” jelas Novi.
Sementara dari sampel WPS tidak langsung di kota Tanjungpinang terdapat nilai tidak pernah menggunakan kondom sebesar 12 persen, kadang-kadang sebesar 55 persen dan selalu menggunakan sebesar 33 persen. Jumlah ini termasuk sangat riskan sehingga menyebabkan kriteria kemungkinan adanya prevalensi IMS semakin tinggi.
Dari hasil penelitian Infeksi Saluran Reproduksi di kota Tanjungpinang dengan responden sebanyak 97 WPS di lokalisasi dan 149 responden WPS di tempat hiburan menyebutkan pekerjaan pelanggan yang paling sering dilayani terdiri atas polisi/TNI dengan rataan 1,5 persen, PNS juga 1,5 persen, pegawai swasta hanya 0,5 persen, ABK di lokalisasi sebesar 16 persen sedang di tempat hiburan hanya 1 persen.
WPS tempat hiburan paling banyak melayani tamu orang asing yakni sebesar 92 persen sedangkan WPS lokalisasi hanya melayani 2 persen. WPS lokalisasi paling banyak atau paling sering melayani orang yang justru tidak diketahui asal muasalnya oleh WPS.
Tindakan pencegahan HIV/AIDS bisa dengan menjabarkan slogan yang disosialisasikan sebagai upaya pencegahan penularan HIV yang dikenal dengan prinsip ABCD. A (Abstinence), yakni tidak melakukan hubungan seksual sama sekali. terutama bagi yang belum menikah, B (Be Faithful), yakni tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya, C (Condom), yakni jika kedua cara di atas sulit, harus melakukan hubungan seksual yang aman yaitu dengan menggunakan alat pelindung atau kondom dan D (Don’t Share Syringe), yakni jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain, terutama di kalangan IDU’s.
Bagi tukang ojek seperti Madi dan Andi, apa yang disebut dengan konsep dan prinsip ABCD memang tidak secara detail diketahuinya. Saat dijumpai, keduanya mengaku bersama teman-temannya tidak terlalu paham dengan apa, kepanjangan dan definisi detail dari prinsip ABCD tersebut.
Namun saat dijelaskan tentang prinsip tersebut, Andi dan Madi sependapat kalau apa yang telah mereka lakukan juga mengacu pada ketentuan tersebut. “Yang jelas setiap kita ngobrol dengan WPS, yang berhubungan dengan HIV/AIDS, selalu menyebutkan atau menyuluh tentang keempat hal tersebut, meski sebenarnya saya tidak tahu betul apa kepanjangan dari ABCD itu, namun apa yang kita lakukan jelas sesuai dengan prinsip tersebut,” ujar Madi. (persda network/nurfahmi budi)

Teman Baik, tak Selalu Bicara Uang (5-habis)

by noenx's
SETELAH beberapa pertemuan dan berbincang itulah, ia merasa apa yang telah dilakukannya selama ini sangat berbahaya dan menyebabkan penderitaan yang sangat panjang bahkan telah mengancam jiwa orang lain. Nurlita-pun kini semakin tegas pada konsumen untuk selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks, meski pada awalnya sempat diprotes para pelanggannya karena terbiasa tanpa hambatan apapun.
Tapi justru karena beban itulah, lama kelamaan dirinya mulai tertarik untuk menjadi penyuluh sedikit demi sedikit seolah membantu kegiatan para tukang ojek tersebut. “Memang tukang ojek bagi saya tidak disangkal lagi mampu memberi sesuatu yang lebih bagi kehidupan saat ini, meski sebenarnya saya tahu umur sudah tidak panjang lagi,” imbuhnya trenyuh. (persda network/nurfahmi budi)

Teman Baik, tak Selalu Bicara Uang (4)

by noenx's
KARENA itulah ia merasa peran tukang ojek sangat berguna bagi dirinya dan para WPS lainnya. Biasanya para tukang ojek tersebut memberitahu lewat omongan saja, tapi kadang Riana dan kawan-kawan diberi stiker atau lembaran tulisan yang berisi pengetahuan tentang HIV dan AIDS.
Sama seperti Riana, tukang ojek bagi seorang Nurlita yang positif terkena HIV, adalah tidak hanya sebagai tukang antar saja ke pelanggan yang di luar kompleks. Namun lebih dari itu mampu memberi pengetahan tentang arti hidup meski terkena virus HIV.
Menyinggung kapan tahu jika sudah terjangkiti virus tersebut, Nurlita menjelaskan sekitar tahun 2000-an sepertinya, ia memang merasa tidak sehat, banyak keringat, sering pusing-pusing, panas terkadang muntah-muntah dan terasa semakin lemas. Karenanya ia memeriksakan diri ke dokter. Eh...ternyata bagai petir di siang bolong dokter mengatakan kalau dirinya positif terkena virus sangat berbahaya tersebut.
“Namun saya sempat tidak patah arang, saya minta dicek kesehatan total namun ternyata memang hasilnya sama saja. Sejak saat itu saya pasrah namun tetap bekerja seperti biasa melayani tamu meskipun sebenarnya saya tahu hal itu bisa membahayakan orang lain, tapi saya terus mau hidup darimana, sayapun butuh uang juga. Jadi tetap saja saya beroperasi melayani pelanggan,” jelas Nurlita, wanita asal Jepara, Jawa Tengah ini.
Lalu bagaimana Nurlita melayani konsumennya?Ternyata ia tetap saja melayani seperti hal WPS biasa lainnya. Namun tidak seperti saat berada di kota Batam, kini ia sudah berubah, meski tidak mau berhenti menjadi seorang WPS.
Ia mengaku saat ini sudah berubah. Perubahan itu tampak dari keharusannya untuk memakai alat pengaman kondom. Biasanya ia membawa sendiri untuk teman kencannya atau kalau tidak selalu memberi peringatan pada pelanggan untuk memakai kondom, meski dirinya tetap tidak memberi tahu kalau mengidap HIV.
“Masih terasa berat dan sesak di dada,” ujarnya lirih dengan raut muka yang dipaksanya untuk selalu ceria dan tersenyum, tapi guratan sedih dan menyesal tetap ada di bola matanya yang masih bening.
Wanita ini mengaku perubahan yang ada pada dirinya terutama dalam melayani pelanggan didapat dalam jangka waktu cukup lama. Itupun ia rasakan dulunya sebagai sebuah siksaan, karena “aksi balas dendamnya” terasa terhambat.
Nurlita berusaha merubah gaya hidupnya karena memang keinginannya agar penyakit yang diidapnya tidak bertambah parah, pasalnya ia masih tetap berusaha untuk pergi ke klinik, apalagi hal tersebut juga untuk menjaga alat reproduksinya tetap bersih.
“Namun di sisa hidup saya, jika tidak bisa disembuhkan juga, saya tidak ingin bertambah parah, jadi berkeinginan menggunakan kondom, termasuk teman kencan saya, harus, kalau tidak saya justru bisa menolak secara halus meski tetap sebisa mungkin membujuknya supaya tetap memakai jasa layanan seks saya,” jelas Nurlita, yang merasa dirinya berubah sejak enam bulan setelah tinggal di kota Tanjungpinang.
Mengenai asal kesadarannya untuk merubah pola hidup dan pelayanannya ke konsumen, wanita ini mengaku situasi dan kondisi di lingkungannya sekarang-lah yang membuatnya mampu merubah segalanya.
Satu di antara yang paling dominan merubah pola pikirnya tentang “balas dendam” dan kesehatan justru datang dari pergaulannya dengan tukang ojek. Selain merasa enak dan aman serta nyaman untuk diajak ngobrol kesana kemari, teman-teman tukang ojeknya mampu menghadirkan nuansa lain terutama mengenai virus HIV dan penyakit AIDS.
Ia membuktikannya sendiri. Saat pertama kali memakai jasa mereka untuk mengantar keluar guna menemui konsumen yang mem-booking, di sepanjang perjalanan tukang ojek tersebut mencoba untuk berbincang tentang segala hal awalnya, namun lama kelamaan mengajak untuk berbincang tentang HIV dan AIDS.
Pertama kali mendengarnya, Nurlita terus-terusan cuek. Namun setelah setiap kali keluar meski dengan tukang ojek yang berbeda dan perbincangan selalu mengarah ke sana, ia-pun seolah tergerak dan tersadar tentang penyakit mematikan tersebut, karena memang tukang ojek tersebut senantiasa mengajak untuk selalu menanyakan kepada pelanggan apakah membawa kondom atau tidak.
“Ternyata teman-teman tukang ojek sangat intens, terutama saat menjelaskan betapa bahayanya jika tidak menggunakan alat pengaman seperti kondom karena bisa menimbulkan penyakit, meskipun kondom misalnya, tidak seratus persen bisa mencegah penyakit, tapi setidaknya bisa mereduksi lebih banyak daripada tidak memakai sama sekali,” jelas Nurlita. (persda network/nurfahmi budi)

Teman Baik, tak Selalu Bicara Uang (3)

by noenx's
MANFAAT lainnya bukan hanya untuk Riana dan Nurlita, tapi juga bisa dirasakan semua penghuni WPS di sini. Mereka sangat dekat dan familiar, para WPS bisa datang kapan saja ke pangkalan, bisa minta bantuan apa saja, terutama bagi yang sudah langganan. Paling utama tentu dari segi keamanan, para tukang ojek tersebut bisa membantu sehingga tidak usah khawatir bakal terjadi apa-apa.
Selain itu karena rata-rata dari mereka sudah berkeluarga, bercerita apa saja masalah yang sedang kita hadapi selalu masuk dan mendapat tanggapan, termasuk cerita tentang kemungkinan untuk menikah dan beberapa hal tentang pengetahuan penyakit kelamin dan tubuh akibat pekerjaan sebagai WPS. “Meski tidak terlalu detail, tapi sudah cukup memberi informasi dasar kepada saya,” imbuh Riana.
Nurlita juga memiliki pandangan yang sama. Tukang ojek mampu memberi warna tersendiri terutama jika dari sisi psikologi sedang mengalami masalah akibat himpitan kurangnya uang, berselisih dengan temannya ataupun mulai berkurang penggunanya. Karena tidak bisa dipungkiri terkadang keinginan untuk keluar dan kembali ke keluarga normal selalu ada, sesuai dengan kodrati wanita untuk berkeluarga.
Mengenai godaan saat berteman dengan tukang ojek, Riana menyebut situasi tersebut terkadang ada seiring dengan tingkat kedekatan yang dirajut setiap harinya. Tapi akhirnya sebagian besar mereka yang diajakanya selalu menolak bahkan justru memberi petuah yang sangat berharga.
Terkadang dirinya juga heran kenapa mereka bisa begitu kuat menahan godaan. “Jadi mereka benar-benar bisa membuat kita kagum dan segan sekaligus hormat,” kata wanita yang maksimal menerima 3 tamu dalam satu malam.
Lalu bagaimana cara Riana melayani tamunya?Wanita berambut ikal sebahu ini menuturkan setiap kali tamu yang datang padanya harus sehat jasmani, wajib membawa dan menggunakan kondom, itu yang sangat wajib karena bisa mencegah kemungkinan terjangkit penyakit menular seksual.
Jika tidak menggunakan kondom, Riana pasti akan menolaknya mentah-mentah. Ia berprinsip lebih baik kehilangan Rp 500 ribu daripada berpenyakitan seumur hidupnya.
Justru setiap kali akan melayani tamu, Riana selalu menyempatkan diri untuk menjelaskan masalah kesehatan jika tamu yang akan menggunakan jasanya tidak membawa dan tidak mau menggunakan kondom. Jika sudah begitu, biasanya sang tamu langsung merespon, jika ingin melanjutkan segera membeli kondom atau justru langsung pulang karena malas mencari dan memasang kondom.
Riana mengaku mendapat sistem dan cara seperti itu dari hasil pergaulannya dengan para tukang ojek yang selalu mangkal di gerbang masuk lokalisasi yang memang sudah terkoordinir rapi. Dari sanalah terkadang Riana mendapat informasi berharga terkait virus HIV dan AIDS.
Menurut Riana, apa yang telah dilakukan para tukang ojek di daerah sekitarnya tergolong berhasil. Pasalnya semua rekan-rekannya kini telah mengerti tentang beberapa hal terkait HIV/AIDS, terutama arti penggunaan kondom.
Bahkan kini teman-temannya yang dulu anti dengan sosialisasi yang dilakukan para tukang ojek sudah berbalik mendukung. “Mereka kini justru pengen tahu lebih dalam tentang HIV/AIDS dan selalu menunggu kabar teranyar. Tak jarang, kita ada diskusi kecil-kecilan,” cerita Riana.
“Mereka memang setiap kali ketemu selalu sedikit demi sedikit memasukkan pengetahuan tentang penyakit itu, jadi lama kelamaan saya tahu juga. Jadi berkat mereka saya tambah ngerti, meski saya WPS tapi berhak untuk hidup sehat. Mereka biasanya bercerita saat saya memakai jasanya untuk mengantar ke tempat tujuan tertentu seperti di hotel atau tempat kos-kosan. Di sepanjang jalan ngobrolnya pasti ada yang nyerempet-nyerempet tentang bahaya HIV/AIDS. Bahkan setiap dua minggu di lingkungan kompleks selalu ada layanan pemeriksaan kesehatan reproduksi, dan biasanya tukang ojek justru yang memberitahu dulu kalau-kalau ada yang mau memeriksakan diri.” jelas Riana. (persda network/nurfahmi budi)

Teman Baik, tak Selalu Bicara Uang (2)

by noenx's
ITULAH yang selalu rutin dilakukan Nurlita dan Riana setiap harinya. Itupula yang juga dikerjakan oleh hampir seluruh penghuni lokalisasi Batu 15, lokasi yang sebenarnya terletak jauh dari jalan utama, namun justru menjadi kompleks ramai dan terbilang bersih dan teratur.
Bagi Riana, kondisi sekarang yang harus dijalani sebagai seorang WPS tentu tidak menjadi tujuan utama yang dulu sempat dibayangkannya. Meski sempat terlintas untuk menjadi seorang TKI, namun jalan hidup membawanya kepada pekerjaan yang berada di luar perkiraannya.
Menjadi WPS, bagi Riana adalah keterpaksaan. Ia harus menanggung akibat sebagai korban penipuan yang dilakukan temannya sendiri. Wanita asal Tasikmalaya Jawa Barat ini harus terjun ke dunia WPS setelah keperawanannya direnggut seorang Apek asal Singapura. Meski sangat sakit, namun justru uang yang menjadi daya tarik seorang Riana.
Setelah peristiwa tersebut, ia langsung berpikir untuk terjun saja langsung karena sudah kepalang basah. “Akhirnya memang aku harus terjun ke dunia ini dan sampai di Batu 15 ini, perasaan tetap pengen keluar, tapi tetap saja belum bisa kulakukan,” ujarnya, saat bercerita seluk beluk kehidupannya hingga ia seolah terdampar di kota Gurindam ini dan menjadi WPS sejak tahun 2001.
Sementara Nurlita cenderung terseret sebagai pelayan nafsu laki-laki ini disebabkan desakan kebutuhan ekonomi saat hidup di Batam. Karena merasa mudah memperoleh uang dengan kenikmatan, Nurlita mengaku mau tidak mau terjun sebagai WPS dan juga wanita panggilan.
Mengenai interaksi dengan tukang ojek, Nurlita dan Riana menjelaskan hampir semua teman-teman seprofesinya sangat dekat dan membutuhkan kehadiran dan jasa seorang tukang ojek.
Tidak hanya sebagai pengantar ke tamu di luar atau berbelanja kebutuhan sehari-hari ke kota, lebih dari itu ternyata tukang ojek bisa sebagai tempat curhat jika menghadapi masalah yang cukup pelik menyangkut kehidupan seperti kangen dengan keluarga di kampung halaman sampai masalah kekurangan uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Riana menganggap mereka ada orang-orang yang spesial dan multifungsi. Mereka bisa menjadi teman yang sangat dekat, teman curhat, teman bermain dan bercanda meski terkadang tetap saja ada tukang ojek yang usil dan menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai.
“Tapi yang jelas, mereka (tukang ojek-red) adalah teman baik yang tidak selalu berbicara tentang uang, itulah yang membuat kita bisa dekat dengan mereka dalam keseharian,” tutur Riana, sembari membetulkan letak tanktop merah mudanya yang agak bergeser ke samping kanan. (persda network/nurfahmi)

Teman Baik, tak Selalu Bicara Uang (1)

by noenx's
JARUM jam sisi panjang menunjuk angka 12, sedangkan jarum yang lebih pendek tepat di posisi angka 4. Matahari-pun masih cukup terang menyinari setiap permukaan bumi di kota Tanjungpinang, khususnya di sekitar kawasan lokalisasi Batu 15.
Gardu depan sebagai pintu gerbang selalu tampak sibuk. Obrolan dan cengkrama tukang ojek berbaur dengan senyuman dan celotehan pengunjung warung makanan dan kedai kopi, yang setiap harinya selalu ramai dikunjungi.
Beberapa Wanita Pekerja Seks (WPS) juga mulai menampakkan diri meski hanya sebagian saja yang tampak sudah bersiap untuk “bekerja”. Mereka selalu berbaur dengan lingkungan sekitar, terutama dengan kalangan tukang ojek. Kedekatan mereka sangat tampak dari cara berbicara dan berprilaku, seolah mereka menasbihkan sebagai sebuah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan meski terkadang sisi negatif lebih dicondongkan ke tukang ojek.
Di bagian dalam kompleks, kesibukan beraktifitas juga sudah mulai terlihat sore itu. Ditemani semburat kuning matahari, beberapa WPS tampak sudah mulai menata diri dengan bersolek bersama-sama dalam satu rumah. Kompleks Batu 15 ini memang terdiri dari ratusan rumah di lahan seluas sekitar 3 hektar tersebut.
Setiap rumah biasanya diisi 3-5 WPS yang “berdinas” bersama-sama dalam melayani tamu. Namun memang tidak selamanya mereka melayani tamu di dalam rumah tersebut, terkadang ada pula yang menerima panggilan dan melayani tamunya di luar kompleks, seperti harus pergi ke kota Tanjungpinang untuk bertemu klien di hotel ataupun di rumah kos khusus.
Begitupun yang dilakukan Euis Riana yang terkenal dengan panggilan Misye dan Nurlita yang biasa disapa Ayu oleh kawan-kawannya sekompleks. Seperti halnya yang lain, seolah sudah menjadi awalan yang wajib dilakukan, mereka berdua setiap sorenya selalu bersolek dan menyiapkan diri untuk melayani para lelaki hidung belang guna memuaskan hawa nafsunya dengan berhubungan seks.
Setelah diawali dengan mandi, beragam produk kecantikan telah siap menantin mereka sebagai langkah wajib yang harus dilakukan. Produk seperti lotion, lipstik, eyes shadow sampai parfum selalu berada tidak jauh dari tubuh mereka.
Tak berapa lama dandanan mereka langsung berpadu dengan aroma wangi semerbak dari tubuh mereka, meski terkadang justru beraroma menyesakkan bagi siapa saja yang tidak suka dengan aroma parfum.
Setelah itu, sembari menunggu lelaki hidung belang yang menginginkan jasa kenikmatannya, Riana dan Nurlita bersama satu teman lainnya bercengkrama dan bergosip kesana kemari tak jelas juntrungannya. Biasanya mereka lakukan itu sampai menjelang pukul 20.00 WIB.
Selepas itu bisa dipastikan “orderan” tinggal tunggu waktu saja. Jika ada satu teman yang sudah mendapat konsumen, teman lainnya segera melepas dan biasanya langsung menghentikan pembicaraan, berubah menjadi pasang aksi guna menarik perhatian lelaki hidung belang yang lewat di depan rumah tinggal.
Selain rayuan kata-kata, Nurlita dan Riana juga menunjukkan kelebihannya dalam hal kondisi tubuh. Umur mereka yang relatif tidak terlalu tua, Nurlita (28) dan Riana (30), memang masih bisa langsung meningkatkan adrenalin laki-laki pencari pemuasan hawa syahwat mereka. Tak sampai tengah malam, biasanya kedua WPS ini sudah mendapat konsumen masing-masing. (persda network/nurfahmi budi)



Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (8-habis))

by noenx's
KEINGINAN yang sama juga dirasakan Sasmito. Ia juga berkeinginan untuk menerima dan mengikuti materi tentang HIV/AIDS tersebut meski sampai saat ini belum pernah mendengar kabar tersebut.
Tentang teman-teman seprofesinya yang mengadakan kegiatan sosialisasi, Sasmito memberikan apresiasi positif tersendiri. “Ternyata tukang ojek sendiri bisa melakukannya, masa pihak yang lebih besar lagi tidak punya keinginan tersebut,” kata Sasmito, yang sangat berkeinginan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Begitulah sistem kinerja para tukang ojek di kota Tanjungpinang dalam usahanya membantu pemerintah dalam mencegah semakin berkembang dan menyebarnya virus HIV dan AIDS.
Apa yang dilakukan mereka seharusnya mampu memberi inspirasi dan motivasi terhadap pihak-pihak tertentu jika digarap dengan sungguh-sungguh ternyata mata pencaharian yang sebenarnya tidak menjanjikan justru bisa menjadi jembatan sempurna menuju kehidupan yang lebih baik dan sehat.
Sayangnya sampai saat ini Dinas Kesehatan (dinkes) kota Tanjungpinang seolah tidak peduli terhadap program untuk lebih memperhatikan masalah persebaran virus HIV, terutama bagi para WPS-ODHA, yang saat ini sepertinya masih bisa bebas berkeliaran.
Dr Eka Hanasarianto, Kadinkes Kota Tanjungpinang menuturkan saat ini pihaknya memang belum gencar untuk menyisir satu per satu lokalisasi atau tempat yang diduga sebagai tempat mangkal para WPS. “Kita masih sangat kekurangan tenaga lapangan untuk sekedar mensosialisasikan ataupun menyisir guna mencatat beberapa item terkait AIDS,” ujarnya. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (7)

by noenx's
”PERTAMA kali mereka menolak karena merasa tidak ada masalah saat melayani tamu tanpa kondom, namun kita selalu menjelaskan secara nyata dan kontinyu, sehingga lambat laun mereka sadar betapa pentingnya pemakaian pengaman saat berhubungan seks,” ujar Madi.
Tidak jauh berbeda, Andi mengaku tidak terlalu bermasalah untuk menyebarkan bahaya HIV dan AIDS, bahkan kini ia bersama teman-temannya membuat tempelan-tempelan dan sebaran-sebaran tentang HIV dan AIDS.
Semua piranti yang digunakan tersebut ia dapatkan dari hasil jerih payahnya bersama teman. Tentang materi tempelan atapun selebaran, Andi selalu mendapatkannya dari LSM, baik itu dari LSM YBS ataupun Yayasan AIDS Kota Tanjungpinang.
Selain di lokalisasi, Madi dan teman-temannya juga selalu memberi pengarahan terhadap penumpang setiap harinya, terutama yang berprofesi WPS atau pengguna.
“Setiap saya memboncengkan wanita malam yang berprofesi sebagai WPS saya selalu mengajak ngobrol sedikit demi sedikit dengan mereka. Setelah agak mencair suasananya biasanya saya baru masukkan pengertian tentang penyakit tersebut sekaligus bagaimana simpelnya mencegah tertular dan terjadinya virus tersebut ke tubuh manusia,” tegas Madi.
Efeknya langsung terasa, meski harus tetap pelan-pelan. “Jika sudah seperti itu biasanya sebelum saya antar dia ke tempat yang dituju baik itu rumah kos ataupun hotel, KTV dan tempat hiburan serta tempat prostitusi lainnya saya sarankan dia membawa alat pengaman, jika belum bawa, biasanya saya sarankan pakai kondom saja, sekaligus memberitahu kalau tamunya tidak makai kondom jangan mau karena bahayanya itu tadi,” jelas Madi.
Saat ditanya tentang penumpangnya yang WPS-ODHA, Andi menyebut tetap saja pihaknya terus memberi pengertian dan pemberitahuan jika apa yang dilakukan sangat merugikan orang lain, tentu dengan bahasa yang halus dan tidak menyinggung. Penekanannya lebih dalam terutama menyangkut bahaya penularan penyakit.
Mengenai kesuksesan menjalankan keteraturan di sekitar kawasan Batu 15, Madi mengaku bakal terus berjuang untuk semakin menertibkan dan menyehatkan lingkungan. Begitupun Andi, dengan pengalaman dan pengetahuan yang diberikan selama pelatihan HIV/AIDS, ia bakal berusaha semakin sering berkomunikasi dengan warga, karena ternyata hasilnya sangat memuaskan.
“Jelas masih banyak PR yang harus kita selesaikan. Memang sekarang sepertinya teratur tapi memang setiap orang kan tidak bisa dipastikan apa maunya. Mungkin saja karena merasa terdesak, meski tamunya sudah membeli kondom (meski mungkin terpaksa), ia mau saja melayani dengan ‘langsung’ tanpa penghalang apapun, dan mungkin saja ‘keluarnya’ di dalam karena tanggung alias kepalang tanggung. Nah itu yang terkadang tetap kita pikirkan,” jelas Madi.
Solusi awalnya Madi dan Andi seolah sangat kompak. “Kita tentu tidak bisa mengurusi privasi orang lain, tapi kita usahakan kita bisa tahu dan tanyakan kepada si WPS apakah saat melayani tamu menggunakan kondom atau tidak. Namun sekali lagi variable itu memang tidak terlalu meyakinkan, tapi kita bisa lihat hasilnya dari pemeriksaan kesehatan yang rutin dilakukan setiap dua minggu di klinik. Atau kalau tidak, jika si WPS sudah kita kenal baik kita pasti memperhatikan apakah ada sampah kondom atau tidak setelah mereka berhubungan,” ujar keduanya.
Jika ada gejala WPS tersebut tidak menggunakan kondom, tindakan yang dilakukan adalah menegurnya. “Karena bagaimanapun semua itu demi kesehatan seluruh penghuni, jangan gara-gara satu orang semuanya terkena. Karena yang saya tahu prinsip penyebaran HIV tergolong cepat, apalagi bisa saja tamu yang sama datang di malam berikutnya tapi beda WPS, itu yang sangat riskan bukan, beda dengan yang langganan,” tutur Madi.
Lalu bagaimana sikap para tukang ojek yang berada di luar sistem koordinasi kelompok alias yang bebas secara individu?Ternyata dari perbincangan dengan beberapa tukang ojek tersirat niatan mereka untuk meniru apa yang telah dilakukan rekan-rekannya yang tergabung dalam suatu kelompok atau tempat mangkal.
Satrio contohnya. Bapak tiga orang anak ini mengaku sebenarnya ia sering juga mengantar WPS ke sebuah tempat, namun tidak dalam bentuk langganan penumpang, karena memang dirinya selalu bergerak mencari penumpang baik di pasar, saat pergi-pulang anak-anak sekolah, pegawai pulang sampai malam harinya serabutan mencari penumpang.
“Asyik juga sih sebenarnya mengikuti pelatihan dan berkegiatan seperti yang diceritakan apalagi ini menyangkut HIV/AIDS, sesuatu yang selama ini belum saya ketahui, tapi ternyata belum bisa,” ujarnya. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (6)

by noenx's
MENGENAI pembiayaan untuk operasional mereka dalam hal di atas, Madi mencontohkan dia dan teman-temannya memang telah mengalokasikan secuil dana untuk kerja mereka, terutama menyediakan poster-poster sosialisasi.
“Kita menyisihkan sebagian pendapatan kita tiap minggu, namun tidak ada paksaan, toh poster-poster itu kan tidak seberapa modalnya, kebetulan kita juga punya teman yang membua poster, tentu kita dapat harganya miring,” ujar Madi, yang menyebut dalam sebulan uang yang terkumpul bisa mencapai Rp 500 ribu.
“Gak masalah tuh dengan langkah itu karena pada dasarnya yang terpenting bagi kita adalah tujuan yang akan kita sampaikan, semuanya demi kemaslahatan masyarakat, tidak hanya kita. Jadi tidak ada masalah kehilangan sedikit harta, daripada nanti terjadi sesuatu yang merugikan kita semua,” terang Paulus, yang mengaku minimal ia memberi iuran berupa materi sebesar Rp 100 ribu.
Saat ditanya bagaimana jika justru ditinggalkan penumpang yang mau masuk ke kawasan, Madi dengan gamblang mengatakan, ”Jelas kita tidak takut karena itulah aturannya di sini dan setiap tamu harus mematuhi apa yang sudah digariskan di wilayah ini. Jika mereka enggan atau bahkan melanggar, silahkan meninggalkan tempat ini. Tentang pelanggan kan berhubungan dengan rejeki, dan kita yakin yang di-Atas pasti sudah menentukan rejekinya, jadi kita tidak perlu takut, apalagi itu demi keselamatan atau kesehatan kita semua. Apa jadinya jika satu saja WPS terkena penyakit mengerikan, tentu semuanya bakal riskan terkena,” ungkap Madi panjang lebar.
Terkait pengetahuan tentang HIV dan AIDS, Madi dan Andi mengaku mendapatkan penjelasan singkat maupun detail dari beberapa pelatihan yang diikutinya. “Saya tahu dari beberapa pelatihan yang ikuti bersama teman-teman tukang ojek se-kota Tanjungpipinang,” kata Madi.
“Biasanya memang berkala. Saya pernah ikut pelatihan tiga hari bersama Yayasan Bentan Serumpun (YBS). Di situ saya diberi kuesioner terlebih dahulu, baru materi oleh beberapa orang diberi materi tertulis sampai di akhir kegiatan diberi tes lagi,” imbuh laki-laki yang sehari-harinya selalu menyempatkan diri untuk berdialog dengan keluarga tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakatnya.
Sedang Andi mengaku sangat senang dengan pelatihan yang ia dapatkan tentang HIV dan AIDS oleh yayasan. Ilmu dan pengetahuan, meski terbatas, tetap bisa diaplikasikan ke tengah masyarakat meski hanya dari mulut-mulut.
“Jelas senang, apalagi tidak hanya di tempat mangkal saja, namun akhirnya kita terdorong untuk menyampaikannya di lingkungan saya, dan saya juga mengatakan kepada teman-teman sesama pengojek untuk menyebarluaskan hal yang sama,” jelas Andi, yang sependapat dengan Madi.
Nada setuju juga dinyatakan Hamta, teman mangkal Andi. Ia yang mengikuti kegiatan pelatihan gelombang pertama di YBS bersama Andi mengaku mendapat banyak sekali manfaat dari materi yang ia peroleh. Selain kesehatan secara umum, ia juga bisa merasakan betapa banyak hal yang bisa ia petik dari dunia yang selama ini dekat dengan profesinya.
Betapa tidak, ia kini bisa mengaplikasikan apa yang telah didapatnya di pelatihan ke dunia nyata, yakni para WPS, agar bersikap hati-hati. Tidak itu saja, ia juga bisa bercerita kepada lingkungan sosial sesungguhnya saat ia berinteraksi. Satu lagi yang ia rasakan adalah kebanggan yang menyelinap di dalam dirinya jika ternyata ia bisa juga memberi sesuatu kepada orang lain. “Ya itu tadi, apalagi terkait HIV/AIDS,” imbuh bapak satu anak ini.
Mengenai hasil pelatihan dikonversikan pada tingkat keberhasilan di kawasan lokalisasi, Madi, Andi,. Lukas, Andri, Dani sampai Hamata menyebut karena maksud yang baik semuanya pun menerima, terutama para WPS. “Lain soal jika ternyata mereka menolak mentah-mentah, nah itu baru masalah besar. Namun sejauh ini tidak ada masalah meski tetap untuk yang pertama jelas ada kesulitan,” ujar Madi.
Ia menjelaskan kesulitan yang dirasakan bersama teman-temannya adalah saat pertama kali menjelaskan tentang maksud dan tujuan, belum termasuk pengusulan penggunaan piranti khusus. Pertentangan sempat dirasakan, terutama terhadap pihak-pihak yang sudah terbiasa tanpa aturan, apalagi yang berhubungan dengan kesehatan seksual.
Namun setelah dilakukan pendekatan secara persuasif, terus menerus dan kekeluargaan akhirnya ada kesadaran untuk mengetahui lebih lanjut. Sementara kesulitan lain pertama kali timbul khusus untuk penerimaan WPS adalah saat memperkenalkan penggunaan kondom sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya penyakit seksual. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (5)

by noenx's
SEMENTARA itu Madi mengaku daerah kerjanya sebagai tukang ojek bersama teman-temannya di kawasan Batu 15 Kota Tanjungpinang dikenal sebagai daerah teratur. Artinya segala sesuatunya yang menyangkut ke-WPS-an selalu berjalan baik. Begitupun yang terjadi di wilayah “kerja” Andi di kawasan Tanjungunggat, sudah terkenal dengan kebersihan dan keteraturannya dalam operasional pelayanan seks tersebut.
Madi mengungkapkan kawasan Batu 15 memang teratur, terutama jika dibandingkan dengan lokalisasi lainnya di kota Tanjungpinang ini. Selain penghuninya yang bisa diatur dan sangat guyub, keteraturan juga bisa dilihat dari sisi penjagaan kesehatannya. Bisa dibilang di sini faktor kesehatan sangat dipentingkan.
Di wilayah ini sudah ada slogan tamu harus membawa dan memakai kondom saat berhubungan intim dengan WPS. Para WPS juga diberikan aturan yang sama, yakni harus membawa kondom dan wajib memperingatkan pada konsumennya untuk tidak lupa menyiapkan kondom..
Jika belum punya atau belum membawa selalu dipersilahkan untuk membeli terlebih dulu. Selain itu di daerah ini juga terdapat klinik kesehatan reproduksi yang memberi kesempatan kepada seluruh penghuni untuk memeriksakan diri mereka. Biasanya mereka mengadakan pemeriksaan dua minggu sekali. “Di semua sudut lokalisasi ini keadaannya hampir semuanya seperti itu setiap harinya, jadi saya bisa menjamin jika keadaan dan prioritas terhadap kesehatan sangat diutamakan,” sebut Madi.
Sementara itu, meski di sekitar kawasan Tanjungunggat tidak terdapat unit pemeriksa, namun tetap saja semua penghuni yang biasanya berada di sekitar kawasan tersebut harus memeriksakan diri mereka. Paling tidak di sekitar klinik VCT di Puskesmas Pancur kota Tanjungpinang yang hanya berjarak tiga kilometer dari lokasi mereka.
Mengenai fungsi anggota tukang ojek lainnya, Madi dan Andi mengaku semua anggota justru berkewajiban untuk mengingatkan penghuni, biasanya memang seperti itu. Apalagi yang selalu mengikuti beragam training tentang kesehatan di lingkungan WPS, baik itu bagaimana cara berinteraksi sampai dengan detail penjagaan terhadap kemungkinan terkena penyakit.
Lalu apa yang dilakukan saat pertama kali pelanggan atau pengguna akan memasuki kawasan lokalisasi?Madi menuturkan ternyata sangat simpel. Pertanyaan yang biasa diajukan adalah Anda membawa kondom dan apakah Anda benar-benar sehat. “Setelah itu jika saya ragu saya selalu memberi nasehat yang intinya janganlah Anda menyebar sesuatu yang bisa merusak kesehatan jika memang Anda memilikinya,” imbuh Madi.
Meski tidak serumit Madi, namun tetap saja aturan baku dilakukan dan diberikan di kawasan Andi dan tempat mangkal ojeknya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke area kos para WPS, pasalnya biasanya Andi justru menyarankan untuk tidak melakukan apapun di lingkungan dan harus keluar dari kawasan tesebut.
Beberapa tindakan yang langsung dilakukan para tukang ojek dalam menghadapi dan menjaga lingkungan mereka adalah dengan menggunakan kata-kata, selain itu juga menempelkan poster-poster yang berisi tentang HIV/AIDS dan cara menjaga kesehatan alat reproduksi agar terhindar dari penyakit yang membahayakan, bukan hanya HIV dan AIDS tapi juga siphilis dan gonorrhae.
“Yup, kita juga merasa bertanggung jawab jadi kita laksanakan bersama-sama dan dilakukan secara konsisten,” tegas Andi yang disetujui Madi. Begitupun dengan teman-teman mereka.
Bagi Dani, Paulus dan Andri, apa yang mereka lakukan tentu akan memberi manfaat di kemudian hari, meski pada awalnya harus tertatih-tatih. Namun berkat kerja tim dan rasa tidak pernah menyerah dengan keadaan, pelan namun pasti usaha mereka mulai menampakkan hasil yang sangat positif, bukan hanya untuk kesehatan mereka namun juga citra terhadap kota mereka sendiri.
Mengenai dampak negatif dari aturan tersebut, Madi dan Andi menyebut setiap aturan pasti ada dampak negatifnya, minimal sekali adalah rasa dongkol bagi yang terbiasa melanggar dan menganggap remeh. Namun lama kelamaan semuanya berjalan normal dan mampu menciptakan secara bersama-sama sebuah lingkungan yang sehat meski berada di tempat lokalisasi. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (4)

by noenx's
HAL senada juga diiyakan beberapa teman dalam satu kelompok. Dwi Andrianto, Dani dan Paulus Pora, tiga tukang ojek yang satu tempat mangkal dengan Madi, mengungkapkan, setiap WPS yang diantar biasanya memang memberi tips yang lumayan. “Apalagi kalau tamunya memberi lebih dan pelayanannya cuma memakan waktu sebentar, alamat kita pasti dapat tips banyak,” ujar Dani, mewakili teman-temannya.
Saat ditanya tentang kemungkinan justru dirinya dan teman-teman menjadi penghubung antara WPS dan konsumen, Madi dan Andi menampik istilah tersebut. Keduanya mengaku mereka (WPS-red) biasanya sudah mempunyai channel sendiri-sendiri, otomatis karena sering diantar tentu tahu siapa dan dimana tempat biasanya mereka melayani, baik yang WPS lokalisasi ataupun yang free alias panggilan bebas.
“Mereka pun tetap enjoy meski kita tahu karena mereka sudah biasa, paling mereka memberi kita uang tip atau bayaran ongkos ojek lebih dari penumpang biasa. Kita tidak berani mengusik mereka, karena itulah sekaligus ladang nafkah kita,” ujar Madi, yang tidak jauh berbeda pendapatnya dengan Andi.
Lalu bagaimana sebenarnya interaksi antara Madi dan Andi beserta teman-temannya dengan WPS secara keseluruhan? Secara gamblang Madi menuturkan kalau mereka menganut sistem simbiosis mutualisme. Artinya tidak hanya memanfaatkan para WPS sebagai penumpang saja, namun lebih dari itu terkadang juga berbincang dan mendengarkan curhat dari mereka kalangan WPS.
“Dan bagi saya dan teman-teman saat-saat itu justru saat yang tepat untuk mencoba memasukkan nilai-nilai kesehatan, biarpun kita tidak memaksa mereka untuk keluar dari pekerjaan yang dianggap masyarakat sangat nista menjual diri,” ujar Madi.
“Hampir tiap malam saya selalu ngobrol dengan mereka, bisa dengan orang yang sama bisa juga dengan WPS yang berbeda. Soal waktu tidak tentu, kadang kalau si WPS-nya lagi sepi booking atau sehabis melayani tamu. Lain kali kalau minta diantar untuk belanja, nah di saat itulah banyak waktu yang kita biasanya ngobrol panjang lebar dengan berbagai topik,” imbuh Madi.
Langkah yang sama juga dilakukan Andri, Dani dan Paulus. Bersama rekan-rekannya yang lain, mereka memang selalu memanfaatkan waktu luang untuk berbincang-bincang ringan dengan para WPS. Mulai dari hal-hal yang lucu, mereka kemudian masuk ke sisi kesehatan.
“Istilahnya kita masuk nyerempet dulu, dan itu ternyata menjadi langkah cukup efektif untuk kita pancing mereka dan kita secara perlahan-lahan masuk ke obrolan kesehatannya, langkah ini memang harus dilakukan karena inilah satu-satunya cara untuk menggapai mereka,” terang Andri.
Begitupun dengan Andi dan kawan-kawan. Mereka memang cenderung untuk seolah bekerja sama, satu sisi demi pendapatan satu sisi lain juga pertemanan yang kental. Hal itu bsia dibuktikan dengan seringnya mereka dalam berinteraksi dan bertemu tatap muka. Apalagi dengan diselingi obrolan yang bisa menjurus pada cerita pribadi.
Mengerucut pada permasalahan WPS-ODHA, Madi dan Andi mengaku tidak terlalu banyak tahu tentang detail. Namun Madi berujar dirinya mengenal dan ada WPS yang berstatus terkena HIV. “Ada, dan itu justru yang paling dekat dengan saya. Kalau dengan saya dia biasanya sangat terbuka. Dia bahkan bercerita pengalaman seks-nya saat pertama kali, sampai tiba-tiba saja ia divonis terkena virus mematikan itu. Saya tidak takut sepanjang kita bisa membawa dan menjaga diri, semuanya pasti berjalan lancar. Pokoknya percaya saja dengan diri kita,” cerita Madi.
Andri, Dani, Paulus dan Andi-pun setali tiga uang. Interaksi antara dirinya dengan WPS-ODHA berlangsung seperti biasa, sama halnya dengan konsumen yang memanfaatkan jasanya menjadi seorang tukang ojek.
Mengenai usaha untuk menginduksi pemikiran WPS-ODHA tersebut tentang bahaya yang bisa terjangkit jika ia melakukan hubungan seksual dengan penggunanya, Madi mengaku sudah berusaha setiap saat untuk selalu memberitahu. Begitupun Andi yang mengajak teman-temannya untuk selalu aktif dalam menyerukan bahayanya pelayanan WPS-ODHA, tentu dengan bahasa yang halus.
“Nah itulah yang terkadang saya masih susah bilang ke dia. Dia kan terkena virus, otomatis saat di bersenggama virus itu menyebar dan menular ke orang lain, namun dia masih tetap tidak mau melepas statusnya sebagai WPS.
Jadi saya juga sering mengantarkannya ke tempat dia biasa dipesan konsumen. Cuma saya tetap tidak bosan-bosannya untuk menasehati di agar berhenti dari pekerjaanya, namun sampai sekarang belum juga berhasil,” jelas Madi.
Andi menyebut dirinya sangat jarang diberitahu apa saja yang dikerjakan WPS-ODHA tersebut saat melayani nafsu syahwat lelaki hidung belang. “Waduh...kalau itu saya kurang tahu pastinya, namun dia terkadang cerita kalau perlakuannya sama saja dengan yang lain. Sebagian besar dia bercerita tentang oral seks saja,” ujar Andi. (persda network/nurfahmi)