Sabtu, Maret 01, 2008

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (5)

by noenx's
SEMENTARA itu Madi mengaku daerah kerjanya sebagai tukang ojek bersama teman-temannya di kawasan Batu 15 Kota Tanjungpinang dikenal sebagai daerah teratur. Artinya segala sesuatunya yang menyangkut ke-WPS-an selalu berjalan baik. Begitupun yang terjadi di wilayah “kerja” Andi di kawasan Tanjungunggat, sudah terkenal dengan kebersihan dan keteraturannya dalam operasional pelayanan seks tersebut.
Madi mengungkapkan kawasan Batu 15 memang teratur, terutama jika dibandingkan dengan lokalisasi lainnya di kota Tanjungpinang ini. Selain penghuninya yang bisa diatur dan sangat guyub, keteraturan juga bisa dilihat dari sisi penjagaan kesehatannya. Bisa dibilang di sini faktor kesehatan sangat dipentingkan.
Di wilayah ini sudah ada slogan tamu harus membawa dan memakai kondom saat berhubungan intim dengan WPS. Para WPS juga diberikan aturan yang sama, yakni harus membawa kondom dan wajib memperingatkan pada konsumennya untuk tidak lupa menyiapkan kondom..
Jika belum punya atau belum membawa selalu dipersilahkan untuk membeli terlebih dulu. Selain itu di daerah ini juga terdapat klinik kesehatan reproduksi yang memberi kesempatan kepada seluruh penghuni untuk memeriksakan diri mereka. Biasanya mereka mengadakan pemeriksaan dua minggu sekali. “Di semua sudut lokalisasi ini keadaannya hampir semuanya seperti itu setiap harinya, jadi saya bisa menjamin jika keadaan dan prioritas terhadap kesehatan sangat diutamakan,” sebut Madi.
Sementara itu, meski di sekitar kawasan Tanjungunggat tidak terdapat unit pemeriksa, namun tetap saja semua penghuni yang biasanya berada di sekitar kawasan tersebut harus memeriksakan diri mereka. Paling tidak di sekitar klinik VCT di Puskesmas Pancur kota Tanjungpinang yang hanya berjarak tiga kilometer dari lokasi mereka.
Mengenai fungsi anggota tukang ojek lainnya, Madi dan Andi mengaku semua anggota justru berkewajiban untuk mengingatkan penghuni, biasanya memang seperti itu. Apalagi yang selalu mengikuti beragam training tentang kesehatan di lingkungan WPS, baik itu bagaimana cara berinteraksi sampai dengan detail penjagaan terhadap kemungkinan terkena penyakit.
Lalu apa yang dilakukan saat pertama kali pelanggan atau pengguna akan memasuki kawasan lokalisasi?Madi menuturkan ternyata sangat simpel. Pertanyaan yang biasa diajukan adalah Anda membawa kondom dan apakah Anda benar-benar sehat. “Setelah itu jika saya ragu saya selalu memberi nasehat yang intinya janganlah Anda menyebar sesuatu yang bisa merusak kesehatan jika memang Anda memilikinya,” imbuh Madi.
Meski tidak serumit Madi, namun tetap saja aturan baku dilakukan dan diberikan di kawasan Andi dan tempat mangkal ojeknya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke area kos para WPS, pasalnya biasanya Andi justru menyarankan untuk tidak melakukan apapun di lingkungan dan harus keluar dari kawasan tesebut.
Beberapa tindakan yang langsung dilakukan para tukang ojek dalam menghadapi dan menjaga lingkungan mereka adalah dengan menggunakan kata-kata, selain itu juga menempelkan poster-poster yang berisi tentang HIV/AIDS dan cara menjaga kesehatan alat reproduksi agar terhindar dari penyakit yang membahayakan, bukan hanya HIV dan AIDS tapi juga siphilis dan gonorrhae.
“Yup, kita juga merasa bertanggung jawab jadi kita laksanakan bersama-sama dan dilakukan secara konsisten,” tegas Andi yang disetujui Madi. Begitupun dengan teman-teman mereka.
Bagi Dani, Paulus dan Andri, apa yang mereka lakukan tentu akan memberi manfaat di kemudian hari, meski pada awalnya harus tertatih-tatih. Namun berkat kerja tim dan rasa tidak pernah menyerah dengan keadaan, pelan namun pasti usaha mereka mulai menampakkan hasil yang sangat positif, bukan hanya untuk kesehatan mereka namun juga citra terhadap kota mereka sendiri.
Mengenai dampak negatif dari aturan tersebut, Madi dan Andi menyebut setiap aturan pasti ada dampak negatifnya, minimal sekali adalah rasa dongkol bagi yang terbiasa melanggar dan menganggap remeh. Namun lama kelamaan semuanya berjalan normal dan mampu menciptakan secara bersama-sama sebuah lingkungan yang sehat meski berada di tempat lokalisasi. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (4)

by noenx's
HAL senada juga diiyakan beberapa teman dalam satu kelompok. Dwi Andrianto, Dani dan Paulus Pora, tiga tukang ojek yang satu tempat mangkal dengan Madi, mengungkapkan, setiap WPS yang diantar biasanya memang memberi tips yang lumayan. “Apalagi kalau tamunya memberi lebih dan pelayanannya cuma memakan waktu sebentar, alamat kita pasti dapat tips banyak,” ujar Dani, mewakili teman-temannya.
Saat ditanya tentang kemungkinan justru dirinya dan teman-teman menjadi penghubung antara WPS dan konsumen, Madi dan Andi menampik istilah tersebut. Keduanya mengaku mereka (WPS-red) biasanya sudah mempunyai channel sendiri-sendiri, otomatis karena sering diantar tentu tahu siapa dan dimana tempat biasanya mereka melayani, baik yang WPS lokalisasi ataupun yang free alias panggilan bebas.
“Mereka pun tetap enjoy meski kita tahu karena mereka sudah biasa, paling mereka memberi kita uang tip atau bayaran ongkos ojek lebih dari penumpang biasa. Kita tidak berani mengusik mereka, karena itulah sekaligus ladang nafkah kita,” ujar Madi, yang tidak jauh berbeda pendapatnya dengan Andi.
Lalu bagaimana sebenarnya interaksi antara Madi dan Andi beserta teman-temannya dengan WPS secara keseluruhan? Secara gamblang Madi menuturkan kalau mereka menganut sistem simbiosis mutualisme. Artinya tidak hanya memanfaatkan para WPS sebagai penumpang saja, namun lebih dari itu terkadang juga berbincang dan mendengarkan curhat dari mereka kalangan WPS.
“Dan bagi saya dan teman-teman saat-saat itu justru saat yang tepat untuk mencoba memasukkan nilai-nilai kesehatan, biarpun kita tidak memaksa mereka untuk keluar dari pekerjaan yang dianggap masyarakat sangat nista menjual diri,” ujar Madi.
“Hampir tiap malam saya selalu ngobrol dengan mereka, bisa dengan orang yang sama bisa juga dengan WPS yang berbeda. Soal waktu tidak tentu, kadang kalau si WPS-nya lagi sepi booking atau sehabis melayani tamu. Lain kali kalau minta diantar untuk belanja, nah di saat itulah banyak waktu yang kita biasanya ngobrol panjang lebar dengan berbagai topik,” imbuh Madi.
Langkah yang sama juga dilakukan Andri, Dani dan Paulus. Bersama rekan-rekannya yang lain, mereka memang selalu memanfaatkan waktu luang untuk berbincang-bincang ringan dengan para WPS. Mulai dari hal-hal yang lucu, mereka kemudian masuk ke sisi kesehatan.
“Istilahnya kita masuk nyerempet dulu, dan itu ternyata menjadi langkah cukup efektif untuk kita pancing mereka dan kita secara perlahan-lahan masuk ke obrolan kesehatannya, langkah ini memang harus dilakukan karena inilah satu-satunya cara untuk menggapai mereka,” terang Andri.
Begitupun dengan Andi dan kawan-kawan. Mereka memang cenderung untuk seolah bekerja sama, satu sisi demi pendapatan satu sisi lain juga pertemanan yang kental. Hal itu bsia dibuktikan dengan seringnya mereka dalam berinteraksi dan bertemu tatap muka. Apalagi dengan diselingi obrolan yang bisa menjurus pada cerita pribadi.
Mengerucut pada permasalahan WPS-ODHA, Madi dan Andi mengaku tidak terlalu banyak tahu tentang detail. Namun Madi berujar dirinya mengenal dan ada WPS yang berstatus terkena HIV. “Ada, dan itu justru yang paling dekat dengan saya. Kalau dengan saya dia biasanya sangat terbuka. Dia bahkan bercerita pengalaman seks-nya saat pertama kali, sampai tiba-tiba saja ia divonis terkena virus mematikan itu. Saya tidak takut sepanjang kita bisa membawa dan menjaga diri, semuanya pasti berjalan lancar. Pokoknya percaya saja dengan diri kita,” cerita Madi.
Andri, Dani, Paulus dan Andi-pun setali tiga uang. Interaksi antara dirinya dengan WPS-ODHA berlangsung seperti biasa, sama halnya dengan konsumen yang memanfaatkan jasanya menjadi seorang tukang ojek.
Mengenai usaha untuk menginduksi pemikiran WPS-ODHA tersebut tentang bahaya yang bisa terjangkit jika ia melakukan hubungan seksual dengan penggunanya, Madi mengaku sudah berusaha setiap saat untuk selalu memberitahu. Begitupun Andi yang mengajak teman-temannya untuk selalu aktif dalam menyerukan bahayanya pelayanan WPS-ODHA, tentu dengan bahasa yang halus.
“Nah itulah yang terkadang saya masih susah bilang ke dia. Dia kan terkena virus, otomatis saat di bersenggama virus itu menyebar dan menular ke orang lain, namun dia masih tetap tidak mau melepas statusnya sebagai WPS.
Jadi saya juga sering mengantarkannya ke tempat dia biasa dipesan konsumen. Cuma saya tetap tidak bosan-bosannya untuk menasehati di agar berhenti dari pekerjaanya, namun sampai sekarang belum juga berhasil,” jelas Madi.
Andi menyebut dirinya sangat jarang diberitahu apa saja yang dikerjakan WPS-ODHA tersebut saat melayani nafsu syahwat lelaki hidung belang. “Waduh...kalau itu saya kurang tahu pastinya, namun dia terkadang cerita kalau perlakuannya sama saja dengan yang lain. Sebagian besar dia bercerita tentang oral seks saja,” ujar Andi. (persda network/nurfahmi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (3)

by noenx's
INTERAKSI antara Madi dan beberapa WPS biasa ataupun ber-HIV seolah berjalan seperti biasa. Setiap hari mereka selalu berkomunikasi entah di warung, di rumahnya atau saat diantar ke suatu tempat.
Komunikasi dan interaksi tetap jalan terus, karena bagaimanapun para WPS, menurut Madi, juga terkadang membutuhkan mereka dan mereka pun membutuhkan jasa Madi dan teman-teman, jadi semuanya berjalan pada rel yang biasa.
“Pada umumnya interaksinya baik-baik saja, karena mungkin kita merasa sama-sama hidup di perantaauan,” sebut Madi, yang mengaku berbincang empat mata maupun bepergian berdua seolah sudah menjadi kebiasaan yang sudah dimengerti istri dan anak-anaknya. “Itu resiko,” imbuhnya lirih.
Lalu sebenarnya apa saja yang diobrolkan jika sedang berjalan atau saling berbincang dengan para WPS tersebut?Madi menyebut materi obrolan sangat variatif dan banyak. Namun biasanya tidak akan lepas dari kisah mereka melayani beragam tamu, ada yang kasar, halus atau bahkan membuatnya justru ketagihan dan menginginkan pria itu kembali lagi.
Ada juga yang bercerita tentang masa lalu kenapa jadi WPS, terus tentang keluarga mereka di tanah aslinya, curhat tentang kesulitan kondisi keuangan, sampai cerita kalau WPS tersebut sakit. “Kadang cerita juga menjurus ke hal-hal yang berbau porno yang membuat kita terhenyak dan ‘kena batunya’, jadi semuanya pernah kita bicarakan dari A-Z kata orang,” kata Madi.
Ia menyebut dirinya sudah terbiasa dengan tawaran untuk mencoba masuk ke dalam “permainan” para WPS tersebut, namun selalu ditampiknya. Bahkan sejak dirinya mangkal di tempat itu. Namun ia mempunyai trik jitu untuk menolak secara halus keinginan dan tawaran para WPS, seperti alasan ada kepentingan mendadak, ditunggu penumpang yang sudah memesannya terlebih dulu dan lain-lain.
Pengalaman serupa juga dirasakan Andi. Ia mengaku WPS di daerahnya hanya ada di beberapa rumah atau tempat kos saja, itupun WPS yang panggilan, tidak ada yang melayani di tempat kos. Namun tetap saja beragam interaksi dengan mereka mampu menjadi “ujian” tersendiri bagi Andi yang memang relatif masih memiliki gejolak melakukan hubungan seksual.
Ia mengaku saling berbincang panjang lebar hanya sesekali saja, tapi kalau malam hari biasanya memang nongkrong atau main saja ke tempat mereka sambil menunggu panggilan buat mereka.
Mengenai pengenalan terhadap WPS sebagai hasil interaksi, Madi mengaku tidak tahu semua secara detail. Namun jika hanya muka-muka yang baisa ada di lingkungan sekitarnya pasti mengenal. Karena memang sudah sering bertemu dan berinteraksi dengan masing-masing blok hunian. “Jadi kita hafal, kalau tidak nama ya cukup wajah saja,” sebut Madi.
Selain WPS itu sendiri, Madi dan kawan-kawan selalu memperhatikan dan memberi tanda terhadap tamu-tamu yang ada. Pasalnya tidak hanya sebagai tukang ojek saja, namun tugasnya dan teman-teman berfungsi ganda, yakni sekaligus sebagai petugas keamanan non formal. Itu juga yang dialami Andi dan kawan-kawan di kawasan Tanjungunggat.
Para konsumen yang datang relatif beragam. Dari pandangan para tukang ojek memang tidak terlalu nyata darimana latar belakangnya. Namun data dari Yayasan Bentan Serumpun (YBS) dan Dinas Kesehatan kota Tanjungpinang menyebutkan ragam mereka mulai dari TNI/POLRI, PNS, pengusaha, mahasiswa bahkan sampai pelajar.
Ia mengaku selain mengamati, jika ia mengantar WPS tersebut ke tempat pelanggan jasa atau ongkos ojeknya bisa meningkat berlipat. Selain ongkos biasanya WPS juga memberi uang tips cukup besar juga. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (2)

by noenx's
BERAWAL dari semua medium yang digunakan mulai dari sosialisasi Dinas Kesehatan sampai seminar tentang HIV/AIDS, ternyata tukang ojek bisa menjadi sebuah jembatan momentum untuk diajak kerjasama dalam hal penerapan pencegahan penularan dan persebaran HIV dan AIDS.
Beberapa pengalaman tukang ojek bisa menjadi acuan tersendiri tentang betapa strategisnya peran tukang ojek dalam hal ini. Tidak tanggung-tanggung mereka bisa menjadi satu di antara garda depan pencegahan.
Mereka terkenal dengan keberanian untuk bergabung, bergaul dan mendekat pada komunitas golongan resiko tinggi tersebut. Seolah menjadi cermin untuk masyarakat, tukang ojek justru menjadi orang yang bisa berdiri paling dekat dengan para Wanita Pekerja Seks (WPS) dan pelanggannya.
Justru secara hemat, pengalaman mereka bergaul dengan kehidupan, komunitas dan lingkungan seperti itulah yang seharusnya memberi motivasi kepada semua pihak untuk senantiasa tidak berputus asa dalam mencegah, minimal meminimalisir, persebaran HIV yang menimbulkan AIDS tersebut.
Sudarmadi contohnya. Pria asal Semarang ini mengaku tidak masalah jika harus bergabung dan bersenda gurau dengan mereka yang mengidap HIV bahkan AIDS sekalipun. Tapi dengan kepercayaan keluarga dan ketebalan iman, ia bisa terus menjaga hubungan dan aktifitas fisik dengan penumpang tetapnya.
Lelaki berusia 45 tahun dan mangkal di gerbang lokalisasi Batu 15 kota Tanjungpinang ini mengaku sejak pertama kali menjadi tukang ojek langsung berhadapan dengan para WPS yang memang berdomisili di sekitar kawasan tersebut. Meski relatif fluktuatif, namun ia menyebut jumlah teman-temannya kini yang tergabung dalam kelompok mencapai kisaran 33 orang, meski jumlahnya terkadang bertambah akibat kedatang tukang ojek baru.
Namun kedatangan mereka, lanjut Sudarmadi, biasanya hanya temporal saja, setelah itu bisa keluar dari kelompoknya. “Memang sejak saya pertama kali ngojek, saya sering nongkrong di sini, dulu masih sepi, tapi sekarang memang sudah sangat ramai,” ujarnya membuka cerita.
Godaan di lingkungan tentu silih berganti saling berdatangan, tak heran jika Madi selalu membentengi diri dengan kualitas iman yang memang sudah ia peroleh sebelumnya. Beberapa godaan yang sempat dirasakannya antara lain karena seringnya melihat para WPS mengenakan kaos ketat yang menonjolkan tubuh ataupun penggunaan tanktop, sehingga terkadang terlintas untuk merasakan bagaimana “tidur” bersama mereka.
Begitu juga yang dialami Andi Susilo yang biasa disapa Andi. Ia mengaku di sekitar pangkalannya, meski tidak berada di kawasan lokalisasi, terdapat beberapa WPS, baik yang terkena HIV ataupun tidak.
“Jelas mereka terkadang menggoda, apalagi kalau tidak dapat pelanggan, namun sampai sekarang saya tidak tergoda dan tidak akan karena memang resikonya sangat besar dibanding kenikmatannya,” jelas lelaki asli Tanjungpinang tersebut.
Madi menyebut bersosialisasi dan hidup di sekitar WPS memang sangat variatif. Saat disinggung pernahkah berselisih dengan WPS yang tinggal di lokalisasi Batu 15 Tanjungpinang, ia menyebut kalau itu sudah menjadi pengalaman yang wajar.
Apalagi jika si WPS tidak puas dengan bayaran atau pendapatan satu malamnya, mereka pasti akan ngomel-ngomel dan biasanya ia yang kena, tapi dianggapnya hanya angin lalu saja, sesuatu yang wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (1)

by noenx's
HASIL investigasi ini bukan bermaksud untuk menggurui, namun hanya sekedar pengharapan untuk bisa menjadi perenungan tersendiri betapa sesuatu yang sebenarnya sepele ternyata memiliki arti penting. Awalnya mereka merasa itu hanya untuk mereka dan lingkungannya, tapi jika ditarik lebih lebar lagi, aplikasi ini bisa menjadi inspirasi tersendiri. Mereka bisa, kenapa kita tidak?mulailah dari diri kita sendiri.

SELAMA ini tukang ojek bisa jadi tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat. Pekerjaannya yang hanya mengantarkan penumpang dan barang dianggap tidak memiliki fungsi dan kedudukan yang bisa berpengaruh signifikan terhadap lingkungan. Tapi ternyata jenis mata pencaharian ini juga bisa berperan lebih dalam hal tertentu, seperti halnya mensosialisasikan
Tukang ojek. Kata majemuk yang menunjukkan satu jenis mata pencaharian di tengah masyarakat yang berhubungan dengan transporasi tersebut mungkin sudah biasa di kalangan masyarakat pedesaan di Indonesia yang berbatasan langsung dengan daerah perkotaan. Fungsi utamanya memang hanya mengantarkan penumpang dari satu tempat ke tempat lain.
Penumpang yang memanfaatkan jasanya memang beragam dari mulai anak sekolah, PNS sampai pedagang. Di kota Tanjungpinang, sebagai ibu kota provinsi Kepulauan Riau (Kepri), fenomena tukang ojek seolah sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Tak pelak 24 jam non stop tukang ojek selalu beroperasi melayani dan menemani setiap gerak langkah dinamis kehidupan malam kota Gurindam ini.
Di kota Tanjungpinang khususnya, dan di beberapa kota lainnya di Indonesia, tukang ojek sudah identik dengan jam operasi sampai malam hari dalam melayani penumpang. Namun rata-rata penumpang mereka adalah orang-orang "istimewa", yakni wanita-wanita penjaja seks yang datang dari berbagai kawasan di kota Tanjungpinang.
Bahkan tak jarang tukang ojek justru menjadi objek utama yang mengerti tentang jaringan dan tempat-tempat yang digunakan untuk kencan wanita yang dalam dunia AIDS disebut golongan resiko tinggi (resti) tersebut. Namun di sisi lain sudah tidak menjadi rahasia lagi, justru sebagian tukang ojek "menambah" penghasilannya dengan menjadi perantara dan pengantar para wanita pekerja seks (WPS).
Kota Tanjungpinang adalah satu di antara kota di provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Jumlah penduduknya berkisar 156.627 jiwa. Berdasarkan perkiraan jumlah penduduk berisiko tahun 2005/06, kota Tanjungpinang memiliki faktor resiko penularan 3 besar di provinsi Kepri, dua lainnya adalah kota Batam dan kabupaten Tanjungbalai Karimun. Jumlah populasi resiko tinggi sebesar 11.800 orang, dimana perkiraan penyebaran kasus HIV rata-rata 31,5 persen.
Data Yayasan Bentan Serumpun (YBS) menyebutkan Prevalensi Infeksi Menular Seksual (IMS) menunjukkan peningkatan yang cukup berarti selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2003 sebesar 65 persen dan HIV sebesar 5 persen. IMS meningkat menjadi 75 persen pada tahun 2004 dan HIV menjadi 6 persen. Hal ini sebagai akibat dari prilaku pemakaian kondom secara konsisten pada kegiatan seksual berisiko yang baru mencapai 15 persen pada WPS langsung dan WPS tidak langsung.
Definisi tersendiri dari WPS langsung adalah WPS yang secara terang-terangan menampakkan dirinya sebagai pekerja seks. Biasanya tipe seperti ini bisa dilihat secara langsung di lokalisasi ataupun yang berada secara terang-terangan di pinggir-pinggir jalan ataupun di tempat-tempat tertentu seperti pujasera ataupun ruang karaoke.
Sedangkan WPS tidak langsung adalah pekerja seks yang sistematikan kerjanya cenderung lebih rapi dan tidak menampakkan secara jelas di muka umum. Jenis ini biasa digunakan untuk menyebut pekerja seks panggilan dan biasanya memiliki tarif lebih tinggi dibanding WPS langsung.
Dari kacamata dukungan data di atas telontar pertanyaan yang sangat menarik tentang bagaimana sebenarnya usaha pemerintah kota Tanjungpinang dan pihak-pihak terkait untuk mencoba mencegah penyebaran virus HIV. (persda network/nurfahmi budi)

Selasa, Februari 26, 2008

Farrah Gray; Reallionaire

resensi by noenx's
Alunan si Miliuner Muda

Jangan pernah takut untuk memulai hal dengan sesuatu yang sepele. Justru sesuatu yang sepele itu bukan tidak mungkin menjadi sesuatu yang tidak bisa disepelekan.

PESAN itu terlihat pada sosok ibu saat si bocah ingusan Farrah Gray berusia 6 tahun. Kondisi keluarga yang kesulitan dalam hal ekonomi, satu tahun kemudian mampu membuat pikiran anak kecil berkelebat saat melihat tumpukan botol lotion di kompleks rumahnya yang kumuh.
Selang dua hari kemudian ia pun menjual kembali produk lotion yang berasal dari kumpulan cairan lotion bekas. Tak dinyana, dalam sehari Farrah kecil mampu menghasilkan uang sendiri;10 dolar. Sebuah hasil yang membuatnya kaget. Sejak saat itulah prinsip dan jiwa kewirausahaan Farrah muncul, mulai mengeluarkan kartu nama berlabel CEO Abad 21, dan akhirnya menuai hasil maksimal hingga memiliki omzet lebih dari 250 juta dolar AS hanya dalam usia 14 tahun!.
Fenomenal?jelas iya untuk ukuran dimana kondisi ekonomi tengah karut marut. Kini kisah sukses pemilik jaringan kartu seluler khusus anak, Kidztel ini berhasil merebut hati jutaan pembaca di dunia. Tak ayal, buku berjudul Reallionaire ini mampu menembus level world best seller.
Membaca buku ini bakal membawa kita ke sebuah alunan khas tersendiri dari seorang Farrah Gray. Naik, turun, terjerembab, dikhianati partner sampai pencurian ide, menjadi polemik tersendiri yang membuat kita bakal semakin bersemangat. Apalagi bagi individu yang tengah mengalami saat-saat berada di bawah, buku ini jelas memberi efek positif dengan gaya bertutur-tuturnya yang mengena dan tidak bertele-tele.
Rincian proses menjadi besar ala Farrah Gray menjadi inti kekuatan dalam buku ini. Meski masih sangat hijau di dunia bisnis, namun ia dengan penuh percaya diri berjalan di tengah kalangan yang sempat menganggapnya “barang remeh temeh” alias tak berguna. Perjalanan teguhnya membaca sosok bocah kecil ini menjadi seorang CEO termuda yang memiliki kantor di jajaran Wall Street.
Meski di beberapa bagian masih mengandung sisi yang sebenarnya mubazir, namun buku ini mampu memberi nafas emosional yang pada ujungnya menginfiltrasi oksigen kita dengan sebuah pernyataan; tak pernah ada kata terlambat di dunia.
Satu hal yang menarik, buku ini mengetengahkan pembelajaran sekaligus dalam setiap akhir bab. Anda dipersilakan langsung berinteraksi dengan kandungan buku, mengisi sebuah formulir lampiran yang melatih diri pembaca untuk benar-benar langsung mengaplikasikan apa yang ada di pikiran. Sebuah teknik runtutan buku yang sangat kreatif tentunya.
Rangkaian “pelatihan” pada setiap akhir bab mampu menggiring pembaca tanpa sengaja ke sebuah kesimpulan tentang apa yang akan dilakukan pembaca dan penggalian potensi secara tidak langsung. Sistematis, cerdas, tidak menggurui dan inovatif, semuanya ada di buku ini. (persda network/nurfahmi)



The Trump Way, The Way to Success

resensi by noenx's
Rahasianya: Kreatif dan Pantang Menyerah!

Saya dijuluki negosiator ulung karena saya biasanya mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya ingin bernegosiasi untuk menang dan saya pun menang….Jangan biarkan ekspektasi membelenggu Anda. Kadang Anda harus banting setir, mengubah rencana, bertindak bagaikan psikolog atau sedikit menjadi bunglon untuk mengetahui oendekatan negosiasi terbaik.

KALIMAT yang menggambarkan sosok Donald Trump di atas langsung manyambut pandangan mata kita saat pertama kali membuka “baju” buku berkategori best seller dunia, The Trump Way, The Way to Success. Terjemahan asli judul buku itu, Jalan Trump: Jalan Menuju Sukses, jelas sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi penggiat bisnis dunia.
Merenungi perjalanan sosok pemilik jaringan real estate dan properti yang tersebar dari jajaran kota New York, Los Angeles sampai Hawaii ini tentu tidak ada habisnya. Putaran rollcoaster memang telah menjadikan sosok putra asli negeri Paman Sam ini terlihat kuar. Tidak hanya properti dan real estate, namun saat ini jaringannya sudah merajah unit bisnis parfum, restoran, kasino, pakaian olahraga, jam tangan, kemeja sampai aksesori leher. Sebuah prestasi bisnis luar biasa yang bisa jadi mampu mengilhami kalangan pebisnis di Indonesia.
“Jangan pernah menyerah, rengkuhlah apa yang ingin kau rengkuh, janngan pernah bosan untuk melobi dan takut pada halangan, mengalirlah seperti air namun jangan selemah air ketika harus terpecah menghantam kerikil kecil,”itu satu pesan penting Trump.
Satu lagi, “Orang yang antusias terhadap pekerjaannya tidak memiliki rasa takut apapun terhadap hidup ini” (halaman 226). Corong motivasi jelas menjadi tujuan terakhir buku ini. Bukna hanya untuk sekedar menjadi bacaan penyemangat jiwa, namun nilai filosofis di dalamnya jelas menjadi nilai lebih tersendiri bagi si pembaca.
Meski terbilang masih terlalu tebal untuk ukuran pebisnis Indonesia yang terlalu “sibuk”, setidaknya jalan sukses seorang Donald Trump jelas menjadi inspirasi tersendiri. Paling tidak, segmen intuitif seseorang bakal terangsang. Pelbagai unit langkah yang terlihat sederhana bagi kita, ternyata mampu menjadi titik kunci seorang Trump membangun kerajaan bisnisnya. Bersainglah dengan diri sendiri, jangan menjadi meteorit yang bersinar sekejap lalu lenyap (hal.227).
Membaca isi buku ini membawa sebuah penerawangan logis dikombinasikan dengan unsur statistik realistis yang mampu memberi sebuah pengetahuan, bukan pengajaran. Paling tidak, meski tidak atau belum bisa teraplikasi dalam setiap diri kita, namun mampu memberi tambahan ilmu yang sangat berguna suatu saat.
Sebuah pilihan gaya hidup pun bisa tersarikan dari buku yang baru saja hadir di Indonesia ini. Gaya hidup bukan virtual, melainkan lebih pada habits dan behaviour jelas memberi benefit tersendiri bagi pelaku bisnis. Pun bukan bagi pelaku bisnis, untuk masyarakat biasa kualitas buku ini jelas mampu mengisi resensi ilmu di dalam otak kita masing-masing. Trik, seni, intuitif, nekad, strategi, momentum sampai pada finalisasi dan sentuhan terakhir jelas terasa dalam buku yang disertai contoh nyata bagaimana Anda harus melangkahkan kaki, atau darimana dan bagaimana saat Anda harus pertama kali melangkahkan kaki.
Donald Trump sebenarnya sudah lama menjadi sorotan. Sepak terjangnya di dunia bisnis negeri Paman Sam jelas memiliki kelas tertinggi. Fenomena manajerial bisnisnya telah menjadi inspirasi banyak orang, langkah-langkah intuitif penuh perhitungan telah mengantarkannya menjadi seorang entrepeneur sejati. Beranjak dari hal kecil, kini Donald telah memiliki aset puluhan triliun yang tersebar dalam puluhan jenis binis baik di USA maupun di beberapa kota besar di Eropa lainnya.
Fakta bahwa dia berhasil membangkitkan kembali kerajaan bisnisnya dan menjadi miliarder setelah tenggelam dalam utang sebesar 9 miliar dolar AS membuat kisah hidupya menjadi semakin luar biasa.
Sosok pria ini mengenal dunia bisnis dari segala perspektif, dari segala sudut, atas maupun bawah dari dalam maupun luar. Dalam inti buku ini pun, Anda akan menyimak pelbagai prinsip praktis yang selama ini memandu karirnya.
Buku ini memang dihadirkan secara spesial bagi kalangan yang tengah beranjak dari keterpurukan ataupun yang tengah menjaga motivasi. Buku ini sendiri bukan bermaksud untuk menggurui ataupun menyatakan apa yang tertera bisa menjadi kunci, namun buku ini lebih kepada memberikan pengetahuan, wawasan dan tambahan psikologi bahwa hal yang tak biasa bisa menjadi luar biasa dan hal yang tdak bisa dijangkau menjadi sesuatu yang bisa dijangkau bahkan dengan mudah sekalipun.
Beberapa prinsip dan jalan seorang Trump terpampang jelas di buku ini. Jika memang tidak mempunyai waktu banyak, jelas poin-poinnya saja sudah mampu kita jabarkan. Sebuah hal yang sebenarnya sepele namun terkadang kita lupakan dalam setiap langkah.
Modal pertama menurut Trump adalah jangan pernah menyia-siakan hidup Anda untuk pekerjaan yang tidak Anda sukai, tetapkan standar tinggi, berpikir skala, memiliki keteguhan, tanpa pengetahuan Anda tak punya peluang, tidak pernah takut untuk dipecat, bukti dalam tindakan tidak hanya retorika semata dan penggunaan naluri adalah nasehat terbaik.
Sisi lainnya antara lain, belajar itu menyenangkan, melihatlah semuanya secara menyeluruh, menunggu peluang yang tepat, hindari pola yang sama, selalu berbuat lebih, hasil lebih penting daripada cara, perlakukan pekerjaan Anda sebagai seni, ikuti perkembangan, ketegaran butuh keberanian, berpetualang, kepercayaan diri dan memanfaatkan momentum potensial Anda. Yang terakhir tentu jangan pernah menyerah untuk menggali diri Anda supaya melesat dan konsentrasi pada target bukan pada alat. Tak salah jika The New York Times mengungkapkan buku ini sebagai solusi mutakhir kebuntuan bisnis. (persda network/nurfahmi)

Senin, Februari 25, 2008

Di Balik Potret Buruh kota Bandar Madani (2-habis)

by noenx's
Menjual Tenaga tak Cukup, ya (Terpaksa) Menjual Diri
ALUNAN lirik dan lagu slow Kasih tak Sampai milik superband PADI terdengar lirih. Sayup terdengar suara Fadly mengumandangkan Tetaplah menjadi bintang di langit, Agar cinta kita akan abadi, Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini, Agar menjadi saksi cinta kita, Berdua...
Bagi Anik (bukan nama sebenarnya), lagu yang sangat populer di awal tahun 2000 itu tetap menjadi lagu favorit dan kenangan sepanjang masa. Tak heran meski ia kini berada jauh dari kampung halamannya, Wonosobo, ia tetap membawa kaset yang warnanya sudah mulai pudar itu. Yup, itulah kenangan terakhir yang terasa manis sekaligus pahit buatnya, sebuah pengalaman yang membuatnya nekad untuk terbang jauh, merantau dan menghilangkan rasa frustasinya di kota industri ini, meski ia sadar dirinya tak mempunyai skill mumpuni. Boro-boro belajar mesin atau kursus, hiruk pikuk SMA saja hanya dilakoninya dua tahun.
Akibat kebablasan dalam menjalin hubungan cinta, sebagai wanita iapun merasakan akibat yang sangat mendera hati. Hamil, aborsi dan keputusan untuk melangkahkan kakinya ke Batam akhirnya disetujuinya. Tak berapa lama, sampailah ia ke Batam dibawa oleh seorang “agen” tenaga kerja.
Berbekal wajah cantik, bodi semlohay dan proporsi yang sangat menarik kaum Adam, membuat Anik tidak susah mencari pekerjaan di sebuah kawasan industri besar di Batam. Namun jangan salah, bukan karena ketrampilannya merakit bahan-bahan produksi, namun kesediaannya untuk bekerja “luar dalam” yang membuatnya bisa diterima di sebuah pabrikan cukup besar di kota industri itu.
Sejak saat itu, ia pun kerja “dobel”. Sekali waktu jadi buruh beneran di pabrik, namun lebih banyak waktu lainnya yang menjadikannya budak nafsu. Sebuah pekerjaan yang berawal dari kesedihan dan kebingungan akan nasib masa depannya.
Sekelumit retorika Anik memang bukan hal baru di Batam. Apalagi ada sebuah perusahaan elektronik yang memang menyediakan secara khusus wanita panggilan dari pelbagai kawasan di Indonesia, dengan harga khusus tentunya, yang siap melayani nafsu bejat lelaki hidung belang. Biasanya mereka berada di posisi “bayang-bayang”, maksudnya tetap tercantum menjadi buruh di pabrik itu namun berada di tempat spesial, tidak perlu kerja keras karena memang penghasilan mereka dalam kontrak perjanjian kerja berasal dari layanan kepada setiap lelaki hidung belang. Ironis memang. Lebih gila lagi, sang koordinator biasanya adalah orang penting yang ada di lingkup dalam perusahaan tersebut.
Sekedar informasi, biasanya “buruh-buruh” ini berasal dari daerah dengan kualitas kecantikan yang sudah termasyhur seperti Menado, Jawa Barat, Lahat, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Tengah dan beberapa kawasan di Pontianak. Kelas mereka pun dibedakan berdasar panggilan seperti nona, bunda, mbak sampai panggilan khusus amoy. Yang terakhir digunakan sebagai panggilan umumnya untuk kalangan “buruh” yang berasal dari Pontianak.
Di luar cara sistematis itu, nasib buruh, terutama yang berjenis wanita, yang semakin terdesak kebutuhan ekonomi membuat mereka harus berpikir keras mencari tambahan lain. Sialnya, nilai Over Time (OT) terkadang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Di samping tentu mempunyai alasan lain seperti kesepian misalnya.
Namun sebagian besar tetap berlatar pada income yang tidak memadai untuk membayar kos, biaya transportasi, beli pulsa, berkomunikasi dengan keluarga, pemenuhan kebutuhan mandi dan makan serta kebutuhan tak terduga. Hanya dengan Rp1,2 juta tentu tidaklah cukup, pun dengan Rp1,5 juta hasil dari uang lembur, juga tidak tentu bisa memuaskan keinginan.
Sedangkan di sisi lain, buruh kini benar-benar menjadi sebuah sumber eksploitasi bagi hampir semua pengusaha di sana. Memang tidak semuanya diperlakukan seperti itu, namun aksi pemerasan tenaga dengan mengesampingkan reward kerap menjadi hal di depan mata. Pemerintah pun seolah tak berdaya. Meski ada tuntunan nilai standar Upah Minimu Kota (UMK), tetap saja semuanya beralih pada pengusaha. Tak ada kekuatan hukum apalagi pembelaan hukum. Yang ada hanya usaha mereka saja, melalui serikat buruh, yang ironisnya terkadang juga ditunggangi beberapa oknum untuk menjatuhkan lawannya. Sungguh sedih, melihat perjuangan para buruh justru digunakan sebagai isu politik. Sekali lagi, sangat ironis.
Pertumbuhan serikat buruh di Indonesia, juga di kawasan Batam, ternyata tidak berkorelasi secara positif pada posisi tawar dari serikat buruh. Pertumbuhan dan fragmentasi ini nampaknya malah berkorelasi secara positif dengan melemahnya posisi tawar dari serikat buruh.
Sebuah sumber mengungkapkan, pada umumnya, konsentrasi serikat-serikat buruh di Indonesia tidak menyentuh isu-isu krusial yang mempunyai kaitan erat dengan isu ketenagakerjaan. Dari sini sebetulnya serikat-serikat buruh dituntut untuk dapat melakukan advokasi atau menyusun proposal tentang reformasi perburuhan yang berkaitan dengan isu reformasi pendidikan, birokrasi, hukum, dan investasi. Serikat buruh juga dituntut untuk melakukan kerjasama dengan asosiasi pengusaha dalam rangka kegiatan pemberantasan korupsi.
Tak heran jika buruh seperti Anik Anik saling bermunculan. Mereka harus merelakan kehormatan mereka demi memenuhi kebutuhan. Bahkan mereka tak tahu lagi sampai kapan bisa begitu. Tak sempat terlintas bagaimana seandainya penyakit mematikan mendera tubuh mereka dan ketuaan menerjang kemampuan mereka untuk bersaing. Masih banyak cerita yang tak bisa dipadukan, namun realitas jelas menjadi bukti sebuah cermin buruh di sebuah kawasan industri ternyata tidak semakmur yang dibayangkan orang luar. Satu kata memang; ironi. (persda network/nurfahmi)

Di Balik Potret Buruh kota Bandar Madani (1)

by noenx's
Berharap dapat Emas, Malah Lemas yang Datang
PUJI Lestari (27) hanya terpekur sebelum ia beranjak dari kasur. Ia hanya sekejap saja menatap teman-temannya yang berada di sekelilingnya. Mata yang masih berat untuk menatap jejak bayang di depan, dipaksanya untuk membimbingnya ke kamar mandi. Seperti biasa, langkah kakinya segera beriringan dengan kerja tangan. Menggamit sikat gigi, handuk kumal yang sudah satu tahun tak pernah ganti dan pakaian ganti, ia berjalan gontai karena memang tubuhnya hanya bermodal setengah nyawa. Sayup-sayup hanya terdengar suara binatang malam, yang semakin hari ternyata semakin sedikit, berganti deru mobil dan suara bising mobil dan motor yang sesekali melintas di depan kamarnya.
Usai mandi, berganti baju seragam “kantornya”, ia pun menengok jam di dinding. Pukul 11.00 malam. Waktu yang enak untuk tidur, pikirnya. Namun itu hanya selintas harapan saja, pasalnya Puji bersama ribuan buruh lain yang bernasib sama malam itu justru harus berjuang demi mendapatkan kehidupan layak yang selama ini mereka cari. “Biar hujan dan banjir sekalipun, tak apalah,”itulah prinsip yang selalu menjejali dalam diri Puji, dan juga teman-temannya. Kecuali sakit, Puji dan Puji-puji lainnya terus bekerja keras bahkan jika ada lembur alias over time (OT) sekalipun, kesempatan itu tidak akan dibuang percuma.
Itulah awal yang selalu sama dengan hari sebelumnya. Bak sebuah mesin yang sudah terporgram, kehidupan sosok Puji harus memiliki laku yang sangat berliku. Sudah hampir empat tahun ia meninggalkan keluarga dan suaminya hanya untuk menempa batu keras kehidupan dan berharap munculnya emas di tanah rantau, Batam.
Bersama puluhan ribu tenaga kerja lainnya, awalnya dan sampai sekarang Puji pun terus bersemangat menyambut hari demi hari dengan kegiatan rutin layaknya robot yang telah terprogram. Nyaris tak ada jeda untuk sekedar rehat bersama. Dalam alam pikirannya terus bermunculan keinginan mendapatkan sesuatu yang lebih di tanah rantau Bandar Madani.
Saat pertama kali datang, ia langsung berhadapan dengan rutinitias seperti itu. Dua tahun pertama, ia berhasil lolos dari seleksi pemulangan dan memperpanjang masa kontraknya selama dua tahun.
Kini setelah hampir empat tahun, ia pun merasa bimbang untuk melanjutkan atau kembali kepada keluarga, suami dan anak yang dulu saat ditinggalkan masih berusia satu tahun. Ia pun sempat berpikir apakah nanti anaknya itu masih kenal dengan wajah sang ibu, itulah yang terus ada dalam benaknya. Bagaikan buah simalakama, ia pun harus memutuskan untuk tetap tinggal di kota ini, demi sebuah jerih payah yang tetap hilang dan habis setiap bulannya.
Kini, nyaris setengah windu Puji berada di kota yang dulu sangat terngiang di telinganya sebagai kota emas, tempat tepat mengumpulkan uang. Namun apa yang didapatnya?nihil. Hampir tidak ada bekas yang tersisa. Pakaian yang dulu dibawa saat pertama kali mendaratkan kakinya di Bandara Hang Nadim, masih tergeletak sama, tanpa ada perubahan berarti. Dirinya yang dulu terasa kumal, kini pun dirasakan idem. Meski terus untuk pulang, namun lagi-lagi hatinya terus meyakinkan jika kelak ada “emas” yang bisa diraih. Namun sayang, ia pun tak tahu kapan bisa mendapatkan itu semua.
Dalam hatinya, Puji pun sempat tergetar untuk segera menyerah dengan keadaan seperti ini. Semuanya ia tepis meski harus berada dalam lingkup kehidupan yang berada di luar dari bayangannya dulu. Menjadi seorang buruh membuatnya harus berjuang keras menyesuaikan diri dengan apa yang di dapat, bukan berdasar apa yang ada di sekitar lingkungannya. Justru jika dirinya tak tahan dengan apa yang ada di lingkungannya, dirinya bakal hancur sudah dari dulu.
Kehidupan prihatin yang ia alami sama dengan yang dirasakannya di kampung halaman. Hidup penuh perhitungan, mengkalkulasi angka sebelum bertransaksi dan seirit mungkin menjadi kebiasaan saban harinya.
Makan nasi, sayur plus tempe atau tahu ditambah sambal menjadi rutinitasnya. Jika sedikit lebih baik, ia sesekali menambahi dengan ayam goreng yang dibeli di depan gang kosnya, itupun dengan catatan esok harinya dipastikan ia harus lebih ngirit. Kebutuhan sehari-hari pun dipikirnya masak-masak. Apalagi sebagai wanita, tentu nilai kebutuhan pribagi menjadi lebih banyak. Masih untung biaya kos dipenuhi perusahaan, jadi ia masih bisa ngirit Rp300 ribu setiap bulannya. Jangan tanya ke salon mana ia merawat tubuh dan rambutnya. Bersama teman-teman, ia pun berbagi jasa untuk memotong rambut bareng atau paling banter ia pergi ke salon kecil-kecilan yang mengenai ongkos Rp10 ribu tiap potongnya. Pernah terpikir untuk sekedar creambath, memannjakan kulit dengan lulur atau rambut di-blow, tapi itu semua dibuangnya jauh-jauh demi satu kata; irit. Sebuah kata yang sangat terngiang di kepala Puji saat dulu belajar di bangku sekolah yang terakhir dijalaninya SD, ‘hemat pangkal kaya’.
Ia pun sempat bertanya pada dirinya, kenapa aku tak kaya meski sudah berhemat bahkan setiap waktu. Sebuah retorika belaka, karena Puji sadar untuk hidup saja sudah susah bagaimana dia bisa menabung.
Begitulah segelintir minoritas, yang bisa jadi juga mayoritas, nasib kaum buruh di kota industri yang selama ini dianggap mampu memberikan asa tinggi, Batam. Meski sudah tergolong menjadi kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas, tetap saja itu hanya bisa dinikmati segelintir orang yang notabene memiliki kekuasaan, kekuatan uang dan koneksi luar biasa, tidak untuk buruh. Karena nasib mereka tetap sama, masih berada di level paling bawah. Jangan bicara tentang hukum atau legalitas apapun, namun perhatian terhadap mereka nyaris belum mendapat atensi intensif layaknya sebuah kawasan industri ternama di dunia. Memang, contoh Puji jelas tidak bisa mengeneralisir semuanya bernasib sama. Namun yakinlah jika Puji Puji lainnya pun tetap ada, sebuah jurang pemisah yang teramat dalam.
Nasih strata mereka yang masih dianggap robot tentu menjadi keprihatinan tersendiri. Eksploitasi luar biasa untuk tenaga mereka, pun lewat mekanisme Over Time (OT) alias lembur jelas menjadi kekurangan tersendiri. Kalau memang perusahaan mampu membayar mereka sama dengan jika mereka, para kaum buruh, melakukan lembur, kenapa tidak dilakukan saja. Toh imbasnya jelas, mampu memberikan semangat tersendiri bagi para buruh untuk bekerja dengan kapasitas produksi yang telah diukur.
Nasib selintas tentang Puji tentu bukan cerminan untuk semua kalangan buruh. Ada yang lebih baik, namun tak sedikit pula yang berada di bawah Puji. Di Batam sendiri, bisa dilihat para pekerja yang nasibnya tidak lebih baik dari Puji terasa sangat menyesakkan. Bagaimana tidak, mereka paling tidak harus berjuang untuk hidup dengan gali lubang dan tutup lubang. Bulan ini mereka makan, hasil kerja sebulan ke depan belum tentu bisa membuat mereka makan. Meski kelas ini minoritas, namun tetap saja menjadi sebuah catatan cukup pelik di sebuah kawasan yang sudah ditetapkan pemerintah sebagai kawasan khusus, baik dari sisi perdagangan, legalitas transaksi dan keterbukaan keekonomian. Sialnya, terkadang status ini justru memicu arogansi beberapa pihak yang merasa mendapat wewenang lebih. Akibat nun jauh di sana tentu faktor serapan tenaga kerja yang semakin berkurang. Beruntung bagi Puji yang meninggalkan keluarga di tempat asal, di kota industri Bandar Madani justru semakin banyak didapati kaum buruh yang berkeluarga di kota ini. Sebuah kejadian dan situasi yang tentunya tidak ada dalam skema pembangunan dan pengembangan kawasan ini. Sistem in-out sudah tak berjalan lagi, akibatnya terjadi ketimpangan sosial dan masyarakat yang menjadi kaum buruh jelas semakin tertinda karena mereka menghadapi hanya dua pilihan; kerja atau menganggur, hidup atau mati.
Jarum jam menunjukkan angka tujuh. Saatnya Puji pulang ke kos. Ia pun sigap mengganti baju seragamnya dengan kaos lengan pendek, bercelana jean dan menyambar tas. Bersama ribuan buruh lainnya, ia keluar mendapati sinar matahari pagi yang membuatnya terasa segar. Sebuah perjuangan berat tentunya, harus berangkat dikawal langit malam, pulang disambut sinar mentari. Pernahkah Anda membayangkan seperti itu?. Kini langkah Puji, juga seperti yang setiap hari ia lakukan, terasa tegap meski di relung hatinya terasa lemas dan tetap bertanya kapan ia mampu menggapai emas yang diimpikannya?. Sampai di pintu gerbang kompleks kawasan industri, ia menghentikan metro trans, naik dan meluncur ke kos dengan satu pengharapan besar semoga besok bisa lebih banyak lembur yang bisa ia raih. Sembari berharap kelak ia bisa pulang ke rumah asal dengan membawa segepok rupiah. Sebuah asa yang Puji sendiripun entah kapan bisa tergapai. (persda network/nurfahmi) foto.www.google.com

Minggu, Februari 24, 2008

Kejahatan Perbankan Masa Kini

courtesy DS
HERAN, kaget, terkejut dan entah apalagi yang patut diungkapkan pada sistem kejahatan masa kini. Tidak hanya secara verbal, namun kini kasus yang masuk lewat jaringan tak bernyata alias software benar-benar menjadi momok tersendiri. Bagaimana tidak, kini penjahat tidak lagi menggunakan kekerasan otot, namun jejaring serabut neuron di otaknyalah yang mengkoordinir itu semua.
Sebuah bagian dari kejahatan, penghunusan melalui software di sektor perbankan memang sangat mematikan. Pasalnya, kini nyaris semua kepentingan dan transaksi perbankan menggunakan jasa layanan software, yang tentunya selaku hasil dari alias karya manusia, tentu bisa terus dikalahkan dari waktu ke waktu. Itulah yang saat ini menjadi ketakutan luar biasa kalangan bankir untuk menjalankan usahanya di sektor perbankan.
Media dunia baru saja dikejutkan berita pembobolan bank terbesar di Dunia yang terjadi di Paris. Akibat ulah pembobol, Bank tersebut harus rela merugi hingga Rp67 miliar. Bagaimana keadaan ini bisa terjadi di negara yang notabene maju dengan sistem pengawasan dan perangkatnya?

Pembobolan Bank
Pembobolan Bank tidak hanya terjadi di Prancis, 10 tahun silam Barings Bank (Bank tertua di Inggris) juga mengalami nasib yang sama. Akibat salah satu stafnya, Nick Leesson, Bank Barings harus rela menutup usahanya. Secara umum kata ''pembobolan" dalam konteks perbankan bisa dimaknai menjadi dua arti. Pertama, pembobolan yang berarti pencurian secara fisik pada bank dengan membongkar berangkas.
Kedua, pembobolan yang dilakukan dengan teknik penipuan yang lihai yang populer dengan istilah white collar crime atau kejahatan kerah putih. Tentu yang kedua ini dilakukan dengan teknik yang cantik,dengan berbagai macam penyalahgunaan dan penipuan dengan memanfaatkan kelemahan pengawasan internal.
Dalam konteks ini, pembobolan yang dimaksud pada Bank Barings dan Bank Prancis adalah jenis yang kedua. Permasalahan utama yang dihadapi oleh Bank Barings dan Bank Prancis secara umum sama, kedua bank tersebut merugi akibat tingginya kerugian yang dialami dari transaksi di pasar keuangan (saham, komoditas, dan valas).
Bank sebagai lembaga intermediasi memiliki kemampuan untuk mendistribusikan deposito dari masyarakat ke berbagai jenis aset (teori diversifikasi untuk menyebar risiko), seperti kredit dan investasi pada aset-aset keuangan di pasar keuangan (saham, komoditas, dan valas). Secara ideal, seharusnya bank memiliki proporsi investasi kredit lebih besar dibandingkan dengan investasi pada pasar keuangan. Namun, fenomena yang terjadi saat ini, bank lebih agresif melakukan penetrasi di pasar keuangan dibandingkan dengan investasi di sektor riil. Hal itu tentu sangat berkaitan dengan iming-iming keuntungan yang cepat dan tinggi di pasar keuangan, tentu dengan kompensasi risiko yang tinggi.
Kelemahan yang terjadi pada Bank Barings dan Bank Prancis adalah kedua Bank tersebut tidak waspada dengan pengawasan internal mereka untuk membatasi transaksi-transaksi spekulatif di pasar keuangan. Akibatnya, bank-bank tersebut tidak menyadari bahwa bank mereka dihadapkan pada tingkat risiko yang tinggi akibat ulah oknum stafnya di pasar keuangan. Mereka baru menyadarinya ketika kerugian riil sudah terlanjur terjadi, yang menguras uang nasabah mereka. Implikasi yang lain adalah ''kerugian negara", negara atau dalam konteks ini Bank Sentral harus bersiap siaga sebagai Lender of Last Resort untuk membayar kerugian para nasabah. Jika tidak, ancaman Bank Run dan penularan krisis perbankan akan terjadi, yang malah mengancam sistem perbankan dan sistem pembayaran negara tersebut.

Pelajaran bagi Perbankan Tanah Air
Hal itu tentu bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi perbankan Tanah Air. Pertama, Bank Indonesia harus lebih waspada pada transaksi-transaksi off balance sheet yang dilakukan perbankan Tanah Air. Transaksi-transaksi off balance sheet yang sebagian besar adalah spekulasi di pasar keuangan tentu akan menciptakan keterbukaan risiko yang tinggi bagi bank dan nasabah tentunya. Jika transaksi-transaksi ini tidak diatur secara baik, akan berdampak pada krisis pada sistem pembayaran dan keuangan.
Kedua, bagi perbankan, pengawasan internal harus dilakukan baik secara formal maupun informal (intelijen) karena sebagian permasalahan pembobolan perbankan itu akibat fraud risk yaitu kejahatan penipuan yang melibatkan staf internal.
Suatu hal yang sangat berharga yang diajarkan dalam syariah economics bahwa spekulasi atau gharar sangat dilarang. Uang sebagai alat tukar harus dikembalikan pada fungsi dasarnya sedia kala. Karena itu, perilaku-perilaku yang memperjualbelikan uang (menganggap uang sebagai komoditas) pada akhirnya dapat mendorong terjadinya krisis keuangan dan krisis ekonomi. Hal itu mudah sekali dipelajari dari beberapa episode krisis yang terjadi di Eropa, Amerika Latin, dan seluruh negara di Asia.
Krisis yang terjadi itu disebabkan ulah para spekulan di pasar valas, yang pada akhirnya men-trigger terjadinya krisis perbankan, keuangan, dan ekonomi. Jika Indonesia ingin mengembalikan perekonomiannya pada keadaan yang lebih baik,tentu negara ini harus concern pada perbaikan sektor keuangan atau sektor perbankan.BI harus dapat mengembalikan fungsi bank sebagai intermediasi di sektor riil dan mengurangi setinggi mungkin transaksi-transaksi yang sifatnya spekulatif di pasar keuangan. Hal itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi risiko seperti yang terjadi pada Bank Barings dan Bank Prancis dan antisipasi risiko ''kerugian negara". (*)